A. Pengertian
Secara bahasa kafalah berarti jaminan beban dan tanggungan. Secara istilah kafalah adalah jaminan yang diberikan oleh penganggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung
B. Landasan hukum
a. Al-Quran
Dalam al-Qur’an surat Yusuf (12): 66, Nabi Ya'kub berkata: "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikun kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kembali kepadaku..."
b. Al-Hadits
Jabir r.a. menceritakan: “Seorang laki-laki telah meninggal dunia dan kami telah memandikannya dengan bersih kemudian kami kafani, lalu kami bawa kepada Rasulullah SAW. Kami bertanya kepada beliau: "Apakah Rasulullah akan menshalatkannnya?". Rasulullah bertanya: “Apakah ia mempunyai hutang?". Kami menjuwab: "Ya, dua dinar." Rasulullah kemudian pergi dari situ. Berkatalah Abu Qatadah : "Dua dinar itu tanggung jawabku." Karenanya, Rasulullah SAW. bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menunaikan hak orang yang memberi hutang dan si mayit akan terlepas dari tanggung jawabnya." Rasulullah lalu menshalatkannya. Pada keesokan harinya beliau bertanya kepada Abu Qatadah tentang dua dinar itu dan dijelaskan, bahwa ia telah melunasinya. Rasulullah SAW. bersabda: "Sekarang kulitnya telah sejuk." (H.R. Bukhari).
C. Rukun dan Syarat
a. Rukun Kafalah
1. Kafil (orang yang memberikan tanggungan)
2. Makful ‘anhu (orang yang membunyai kewajiban atau hutang).
3. Makful lahu (orang yang mempounyai hak atau piutang).
4. Makful bihi (hak atau kewajiban yang seharusnya ditunaikan oleh makful ‘anhu kepada makful lahu namu disebabkan adanya sighot yang memindahkan beban / hutang, kerana kerelaan kafil menjalani bahwa berhak sang makful lahu akan segera ditunaikan)
5. Shighot.
b. Syarat Kafalah
1. Orang yang menjamin di mana ia di syaratkan sudah baligh, berakal, tidak di cegah untuk membelanjakan hartanya.
2. Orang yang memberikan hutang pada makful ‘anhu, makful ;anhu memilik syarat bahwa piutangnya diketahui oleh orang yang menjamin.
3. Shighot atau lazh yang diucapkan pada saat ijab qobul terjadinya proses penjaminan adalah berupa yang diusapkan dengan jelas dan menyiratkan akan kesangupannya dan tak dikatikan dengan serta tak dibatasi oleh waktu.
D. Macam-macam Kafalah
1. Kafalah bi al-mal, adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang. Bentuk kafalah ini merupakan sarana yang paling luas bagi bank untuk memberikan jaminan kepada para nasabahnya dengan imbalan/fee tertentu.
2. Kafalah bi al-nafs, adalah jaminan diri dari si penjamin. Dalam hal ini, bank dapat bertindak sebagai Juridical Personality yang dapat memberikan jaminan untuk tujuan tertentu.
3. Kafalah bi al-taslim, adalah jaminan yang diberikan untuk menjamin pengembalian barang sewaan pada saat masa sewanya berakhir. Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksanakan oleh bank untuk keperluan nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan perusahaan, leasing company. Jaminan pembayaran bagi bank dapat berupa deposito/tabungan, dan pihak bank diperbolehkan memungut uang jasa/fee kepada nasabah tersebut.
4. Kafalah al-munjazah, adalah jaminan yang tidak dibatasi oleh waktu tertentu dan untuk tujuan/kepentingan tertentu. Dalam dunia perbankan, kafalah model ini dikenal dengan bentuk performance bond (jaminan prestasi).
5. Kafalah al-mu’allaqah, Bentuk kafalah ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al-munjazah, di mana jaminan dibatasi oleh kurun waktu tertentu dan tujuan tertentu pula.
E. Aplikasi kafalah di perbankan
Dalam praktisi perbankan kafalah biasa di aplikasikan dalam praktik bank garansi dan letter of credit. Praktik bank garansi bisa diberlangsungkan dengan cara bank sebagai kafil menerbitkan surat tanggungan kepada pemilik proyek atau usaha dengan permintaan dari nasabah yang ingin melakukan pembelian objek di luar negeri ataupun di luar kota. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diingatkan seperti risiko di luar kesengajaan ataupun kelalaian berdasarkan surat jaminan yang dikeluarkan oleh bank penjamin proyek, maka pihak ketiga / pemilik proyek dapat mengajukan klaim kepada penerbit bank garansi tadi.
F. Fatwa Kafalah
FATWA
DEWAN SYARI'AH NASIONAL
NO: 57/DSN-MUI/V/2007
Tentang
LETTER OF CREDIT (L/C) DENGAN
AKAD KAFALAH BIL UJRAH
Menimbang :
Mengingat :
Memperhatikan :
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : FATWA TENTANG KETENTUAN LETTER OF CREDIT (L/C) DENGAN
AKAD KAFALAH BIL UJRAH
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan:
Kafalah adalah akad penjaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul ‘anhu, ashil);
L/C Akad Kafalah Bil Ujrah adalah transaksi perdagangan ekspor impor yang menggunakan jasa LKS berdasarkan akad Kafalah, dan atas jasa tersebut LKS memperoleh fee (ujrah)..
Kedua : Ketentuan Hukum
Transaksi L/C ekspor impor boleh menggunakan akad Kafalah bil Ujrah.
Ketiga : Ketentuan Akad
Seluruh rukun dan syarat akad Kafalah Bil Ujrah dalam fatwa ini merujuk pada fatwa No.11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah.
Penerapan akad Kafalah dalam transaksi L/C ekspor maupun impor merujuk kepada fatwa No.34/DSN-MUI/IX/2002 tentang Letter of Credit (L/C) Impor Syariah dan fatwa No.35/DSN-MUI/IX/2002 tentang Letter of Credit (L/C) Ekspor Syariah.
Fee atas transaksi akad Kafalah harus disepakati dan dituangkan di dalam akad.
Keempat : Ketentuan Penutup
Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah atau Pengadilan Agama setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 13 Jumadil Awal 1428 H / 30 Mei 2007 M
Senin, 19 April 2010
MURABAHAH
A. Pengertian
Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam istilah teknis perbankan syari’ah, murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian yang disepakati antara Bank Syariah dengan nasabah, dimana Bank menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah, yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang ditetapkan. Dalam murabahah, penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah dapat dilakukan untuk pembelian dengan sistem pemesanan.
B. Landasan Hukum
a. Al-Quran
“dan Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (aL-Baqarah [2]:275)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu…” (an-Nisa [4]:29)3
b. Al-Hadits
Dari Suhaib ar-Rumi r.a bahwa Rosululloh SAW bersabda “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual” (HR. Ibnu Majjah)4
C. Rukun dan Syarat murabahah
a. Rukun Murabahah
1. Orang yang penjual
2. Orangyang membeli
3. Sighat
4. Barang atau sesuatu yang diakadkan
b. Syarat Murabahah
1. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah
2. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang diterapkan
3. Kontrak harus bebas dari riba
4. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian
5. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya bila pembelian dlakukan secara hutang.
Secara prinsip, jika syarat dalam (a), (d), atau (e) tidak dipenuhi, maka pembeli meliki pilihan untuk :
melanjutkan pembelian seperti apa adanya kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan atas barang yang dijualmembatalkan kontrak.
D. Macam-macam murabahah
E. Prinsip dan Ketentuan Umum Murabahah
• Akad murabahah bebas riba
• Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan
• Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang
• Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dari pembelian ini harus dan bebas riba
• Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian
• Bank menjual barang kepada nasabah dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya
• Bank harus memberi tahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan
• Nasabah membayar harga barang yang disepakati pada jangka waktu tertentu
• Untuk mencegah penyalahgunaan atau kerusakan akad, bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah
• Jika bank mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik bank.
F. Praktik murabahah di perbankan syariah
Murabahah umumnya dapat diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi, baik domestic maupun luar negeri, seperti letter of credit (L/C). skema ini paling banyak digunakan karena sederhana dan tidak terlalu asing bagi yang sudah biasa transaksi dengan dunia perbankan pada umumnya.
Kalangan perbankan syariah di Indonesia banyak menggunakan al-mubarahah secara berkelanjutan (roll over / evergreen)seperti untuk modal kerja, padahal sebenarnya, al-murabahah adalah kontrak jangka pendek dengan sekali akad (one short deal). Al murabahah tidak tepat diterapkan untuk skema modal kerja. Akad mudharabah lebih sesuai untuk skema tersebut. Hal ini mengingat prinsip mudharabah memiliki fleksibilitas yang tinggi.
G. Prospek,Kendala, Dan Strategi pengembangan murabahah
• Prospek
Prospek untuk pembiyaan murabahah ke depan terlihat memiliki jalan yang terang. Ini dikarenakan beberapa kelebihan yang terdapat apabila mengambil pembiyaan dengna system murabahah, yaitu :
• Meningkatkan margin pembiayaan kepada nasabah agar dapat memberikan return yang bersaing dengan perbankan konvensional.
• Memiliki prospek yang cerah di masa depan karena semakin diminatinya pembiyaaan secara murabahah yang dirasa aman oleh masyarakat.
• Semakin naiknya permintaan dari waktu ke waktu sehingga memungkinkan bagi bank-bank syariah untuk mengembangkan produknya terutama di bidang pembiyaan
• Kendala
• Margin pembiayaan dipengaruhi suku bunga Bank Indonesia (BI rate).
• Belum berjalannya daya tawar yang seharusnya dimiliki oleh nasabah. Sehingga posisi nasabah sering kali “agak terpaksa” untuk menerima harga yang ditawarkan oleh pihak bank syariah.
• Masyarakat masih awam dengan bentuk dan cara pembaiayaan murabahah serta beranggapan bahwa system tersebut rumit
• Strategi dalam menyalurkan dana
• Meningkatkan kualitas sumber daya insani (SDM), agar memiliki menjadi insane yang unggul dan kompeten.
• Melakukan pengembangan pasar dengan membuat dan memodifikasi produk-produk pembiyaan sehingga menarik masyarakat untuk memilih pembiyaan secara murabahah
• Pintar mencari peluang yang dapat menambah jumlah dana bagi bank diantaranya menerapkan hasil keuntungan yang lebih besar dari bank konvensional.
H. Fatwa tentang Murabahah
a) Nomor 4/ DSN-MUI IV/ 2000 tanggal 1 April 2000 tentang Murabahah,
b) Nomor 13/ DSN-MUI IX/ 2000 tanggal 16 September 2000 tentang Uang Muka Dalam Murabahah,
c) Nomor 16/ DSN-MUI IX/ 2000 tanggal 16 September 2000 tentang Diskon Dalam Murabahah,
d) Nomor 17/ DSN-MUI IX/ 2000 tanggal 16 September 2000 tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu Yang Menunda-nunda Pembayaran, dan
e) Nomor 23/ DSN-MUI/ III/ 2002 tanggal 28 Maret 2002 tentang Potongan Pelunasan Dalam Murabahah.
f) Berdasarkan fatwa-fatwa tersebut, Bank Indonesia mengatur lebih lanjut dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia atau Surat Edaran Bank Indonesia, seperti tentang kolektibilitas dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syari’ah Indonesia (PAPSI). Sesuai UU No.10/1998 tentang perubahan UU No.7 tentang Perbankan dalam penjelasan pasal 6 huruf m dijelaskan bahwa yang mempunyai kewenangan untuk mengatur kegiatan usaha Bank Syari’ah adalah Bank Indonesia.
Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam istilah teknis perbankan syari’ah, murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian yang disepakati antara Bank Syariah dengan nasabah, dimana Bank menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah, yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang ditetapkan. Dalam murabahah, penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah dapat dilakukan untuk pembelian dengan sistem pemesanan.
B. Landasan Hukum
a. Al-Quran
“dan Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (aL-Baqarah [2]:275)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu…” (an-Nisa [4]:29)3
b. Al-Hadits
Dari Suhaib ar-Rumi r.a bahwa Rosululloh SAW bersabda “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual” (HR. Ibnu Majjah)4
C. Rukun dan Syarat murabahah
a. Rukun Murabahah
1. Orang yang penjual
2. Orangyang membeli
3. Sighat
4. Barang atau sesuatu yang diakadkan
b. Syarat Murabahah
1. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah
2. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang diterapkan
3. Kontrak harus bebas dari riba
4. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian
5. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya bila pembelian dlakukan secara hutang.
Secara prinsip, jika syarat dalam (a), (d), atau (e) tidak dipenuhi, maka pembeli meliki pilihan untuk :
melanjutkan pembelian seperti apa adanya kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan atas barang yang dijualmembatalkan kontrak.
D. Macam-macam murabahah
E. Prinsip dan Ketentuan Umum Murabahah
• Akad murabahah bebas riba
• Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan
• Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang
• Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dari pembelian ini harus dan bebas riba
• Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian
• Bank menjual barang kepada nasabah dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya
• Bank harus memberi tahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan
• Nasabah membayar harga barang yang disepakati pada jangka waktu tertentu
• Untuk mencegah penyalahgunaan atau kerusakan akad, bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah
• Jika bank mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik bank.
F. Praktik murabahah di perbankan syariah
Murabahah umumnya dapat diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi, baik domestic maupun luar negeri, seperti letter of credit (L/C). skema ini paling banyak digunakan karena sederhana dan tidak terlalu asing bagi yang sudah biasa transaksi dengan dunia perbankan pada umumnya.
Kalangan perbankan syariah di Indonesia banyak menggunakan al-mubarahah secara berkelanjutan (roll over / evergreen)seperti untuk modal kerja, padahal sebenarnya, al-murabahah adalah kontrak jangka pendek dengan sekali akad (one short deal). Al murabahah tidak tepat diterapkan untuk skema modal kerja. Akad mudharabah lebih sesuai untuk skema tersebut. Hal ini mengingat prinsip mudharabah memiliki fleksibilitas yang tinggi.
G. Prospek,Kendala, Dan Strategi pengembangan murabahah
• Prospek
Prospek untuk pembiyaan murabahah ke depan terlihat memiliki jalan yang terang. Ini dikarenakan beberapa kelebihan yang terdapat apabila mengambil pembiyaan dengna system murabahah, yaitu :
• Meningkatkan margin pembiayaan kepada nasabah agar dapat memberikan return yang bersaing dengan perbankan konvensional.
• Memiliki prospek yang cerah di masa depan karena semakin diminatinya pembiyaaan secara murabahah yang dirasa aman oleh masyarakat.
• Semakin naiknya permintaan dari waktu ke waktu sehingga memungkinkan bagi bank-bank syariah untuk mengembangkan produknya terutama di bidang pembiyaan
• Kendala
• Margin pembiayaan dipengaruhi suku bunga Bank Indonesia (BI rate).
• Belum berjalannya daya tawar yang seharusnya dimiliki oleh nasabah. Sehingga posisi nasabah sering kali “agak terpaksa” untuk menerima harga yang ditawarkan oleh pihak bank syariah.
• Masyarakat masih awam dengan bentuk dan cara pembaiayaan murabahah serta beranggapan bahwa system tersebut rumit
• Strategi dalam menyalurkan dana
• Meningkatkan kualitas sumber daya insani (SDM), agar memiliki menjadi insane yang unggul dan kompeten.
• Melakukan pengembangan pasar dengan membuat dan memodifikasi produk-produk pembiyaan sehingga menarik masyarakat untuk memilih pembiyaan secara murabahah
• Pintar mencari peluang yang dapat menambah jumlah dana bagi bank diantaranya menerapkan hasil keuntungan yang lebih besar dari bank konvensional.
H. Fatwa tentang Murabahah
a) Nomor 4/ DSN-MUI IV/ 2000 tanggal 1 April 2000 tentang Murabahah,
b) Nomor 13/ DSN-MUI IX/ 2000 tanggal 16 September 2000 tentang Uang Muka Dalam Murabahah,
c) Nomor 16/ DSN-MUI IX/ 2000 tanggal 16 September 2000 tentang Diskon Dalam Murabahah,
d) Nomor 17/ DSN-MUI IX/ 2000 tanggal 16 September 2000 tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu Yang Menunda-nunda Pembayaran, dan
e) Nomor 23/ DSN-MUI/ III/ 2002 tanggal 28 Maret 2002 tentang Potongan Pelunasan Dalam Murabahah.
f) Berdasarkan fatwa-fatwa tersebut, Bank Indonesia mengatur lebih lanjut dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia atau Surat Edaran Bank Indonesia, seperti tentang kolektibilitas dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syari’ah Indonesia (PAPSI). Sesuai UU No.10/1998 tentang perubahan UU No.7 tentang Perbankan dalam penjelasan pasal 6 huruf m dijelaskan bahwa yang mempunyai kewenangan untuk mengatur kegiatan usaha Bank Syari’ah adalah Bank Indonesia.
QORDH
A. Pengertian
Secara etimologi qordh artinya terputus. Secara terminology qordh artinya penyerahan pemilikan harta mitsliyat kepada orang lain untuk di tagih pengembaliannya. Dalam termin tersebut, menggambarkan bahwa sesungguhnya utang piutang merupakan bentuk muamalah yang bercorak ta’awun kepada pihak lain untuk memenuhi kebutuhannya.
B. Landasan hokum
a. Al-Quran
• •
11. siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak.
b. Al-Hadits
عن إبن مسعود أنَ النبيَ صلى الله عليه وسلم: قال ما من مسلم يقرض مسلما إلا كان مرة (رواه إبن حبان)
Artinya:
Dari ibnu mas’ud bahwa nadi saw bersada: tidak ada seorang muslim yang menghutangi muslim lainnya dua kali kecuali yang satunya seperti shodaqoh.
C. Rukun dan Syarat Qordh
a. Rukun Qordh
1. Muqridh (pemilik barang / yang memberikan pinjaman)
2. Muqtaridh (peminjam)
3. Qordh (objek / barang yang dipinjamkan)
4. Ijab qobul
b. Syarat Qordh
1. Orang yang melakukan akad (muqridh dan muqtaridh) harus baligh dan berakal.
2. Qordh harus berupa maal mutaqowim (harta yang menurut syara’ boleh digunakan untuk dikonsumsi).
3. Sumber dana qordh berasal dari dana zakat, infaq, dan shodaqoh.
4. Tempat membayar qordh harus di tempat terjadinya akad secara sempurna, namun demikian, boleh membayarnya di tempat lain apabila tidak ada keharusan untuk membawanya atau memindahkannya.
5. Ijab qobul harus dilakukan dengan jelas
D. Objek yang sah dijadikan Qordh
a. Menurut hanafiah objek yang dipandang sah sah adalah harta mitsli.
b. Menurut ulama malikiah han hanabilah, obek yang dipandang sah dalah pada pada setiap benda yang tidak dapat diserahkan, baik yang ditakar maupun ditimbang.
c. Menurut jumhur ulama, objek yang dipandang sah adalah pada benda yang dapat diperjualbelikan, kecuali manusia.
E. Larangan Mengambil Manfaat (keuntungan) dari qordh
Dalam islam qordh adalah suatu bentuk ta;awun, oleh karenanya islam melarang mengambil manfaat (keuntungan) dari qordh tersebut.
F. Aplikasi Qordh dalam perbankan syariah
a. Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya yang membutuhkan dana talangan segera untuk masa yang relative pendek. Nasabah akan mengembalikan secepatnya uang yang dipinjamnya itu.
b. Sebagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat, sedangkan ia tidak bisa menarik dananya.
c. Sebagai produk untuk menyumbankan usaha yang sangat kecil atau membantu sector social.
d. Di aplikasikan untuk nasabah yang benar-benar membutuhkan dana dan benar-benar tergolong miskin, dan untuk karyawan perbankan yang bekerja di situ yang membutuhkan dana
G. Bentuk spesifikasi implementasi qordh di bank syariah
a. Nasabah yang tergolong ekonomi menengah ke bawah yang tidak mempunyai pendapatan sama sekali membutuhkan dana untuk membuka usaha. Maka nasabah tersebut datang ke bank syariah untuk melakukan pembiayaan qordh kepada pihak bank.
b. Lalu bank memberikan modal 100% kepada nasabah, setelah bank melakukan introgasi kepada nasabah tentang kehidupannya.
c. Setelah terjadi akad nasabah melangsungkan usahanya danbank tidak terlibat dalam melangsungkan usahanya.
d. Jika usaha yang dikelolanya menghasilkan keuntungan maka keuntungan dibagikan sesuai kesepakatan.
e. Jika nyatanya nasabah menggunakan uang bank untuk kebutuhan darurat, maka nasabah harus datang ke bank untuk untuk mengemukakan pokok permasalahanya, dan bank melakukan pembuktian dengan mengecek perekonomian nasabah dengan mengunjungi rumah nasabah.
f. Jika ternyata nasabah
Secara etimologi qordh artinya terputus. Secara terminology qordh artinya penyerahan pemilikan harta mitsliyat kepada orang lain untuk di tagih pengembaliannya. Dalam termin tersebut, menggambarkan bahwa sesungguhnya utang piutang merupakan bentuk muamalah yang bercorak ta’awun kepada pihak lain untuk memenuhi kebutuhannya.
B. Landasan hokum
a. Al-Quran
• •
11. siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak.
b. Al-Hadits
عن إبن مسعود أنَ النبيَ صلى الله عليه وسلم: قال ما من مسلم يقرض مسلما إلا كان مرة (رواه إبن حبان)
Artinya:
Dari ibnu mas’ud bahwa nadi saw bersada: tidak ada seorang muslim yang menghutangi muslim lainnya dua kali kecuali yang satunya seperti shodaqoh.
C. Rukun dan Syarat Qordh
a. Rukun Qordh
1. Muqridh (pemilik barang / yang memberikan pinjaman)
2. Muqtaridh (peminjam)
3. Qordh (objek / barang yang dipinjamkan)
4. Ijab qobul
b. Syarat Qordh
1. Orang yang melakukan akad (muqridh dan muqtaridh) harus baligh dan berakal.
2. Qordh harus berupa maal mutaqowim (harta yang menurut syara’ boleh digunakan untuk dikonsumsi).
3. Sumber dana qordh berasal dari dana zakat, infaq, dan shodaqoh.
4. Tempat membayar qordh harus di tempat terjadinya akad secara sempurna, namun demikian, boleh membayarnya di tempat lain apabila tidak ada keharusan untuk membawanya atau memindahkannya.
5. Ijab qobul harus dilakukan dengan jelas
D. Objek yang sah dijadikan Qordh
a. Menurut hanafiah objek yang dipandang sah sah adalah harta mitsli.
b. Menurut ulama malikiah han hanabilah, obek yang dipandang sah dalah pada pada setiap benda yang tidak dapat diserahkan, baik yang ditakar maupun ditimbang.
c. Menurut jumhur ulama, objek yang dipandang sah adalah pada benda yang dapat diperjualbelikan, kecuali manusia.
E. Larangan Mengambil Manfaat (keuntungan) dari qordh
Dalam islam qordh adalah suatu bentuk ta;awun, oleh karenanya islam melarang mengambil manfaat (keuntungan) dari qordh tersebut.
F. Aplikasi Qordh dalam perbankan syariah
a. Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya yang membutuhkan dana talangan segera untuk masa yang relative pendek. Nasabah akan mengembalikan secepatnya uang yang dipinjamnya itu.
b. Sebagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat, sedangkan ia tidak bisa menarik dananya.
c. Sebagai produk untuk menyumbankan usaha yang sangat kecil atau membantu sector social.
d. Di aplikasikan untuk nasabah yang benar-benar membutuhkan dana dan benar-benar tergolong miskin, dan untuk karyawan perbankan yang bekerja di situ yang membutuhkan dana
G. Bentuk spesifikasi implementasi qordh di bank syariah
a. Nasabah yang tergolong ekonomi menengah ke bawah yang tidak mempunyai pendapatan sama sekali membutuhkan dana untuk membuka usaha. Maka nasabah tersebut datang ke bank syariah untuk melakukan pembiayaan qordh kepada pihak bank.
b. Lalu bank memberikan modal 100% kepada nasabah, setelah bank melakukan introgasi kepada nasabah tentang kehidupannya.
c. Setelah terjadi akad nasabah melangsungkan usahanya danbank tidak terlibat dalam melangsungkan usahanya.
d. Jika usaha yang dikelolanya menghasilkan keuntungan maka keuntungan dibagikan sesuai kesepakatan.
e. Jika nyatanya nasabah menggunakan uang bank untuk kebutuhan darurat, maka nasabah harus datang ke bank untuk untuk mengemukakan pokok permasalahanya, dan bank melakukan pembuktian dengan mengecek perekonomian nasabah dengan mengunjungi rumah nasabah.
f. Jika ternyata nasabah
SALAM
A. Definisi
Adalah akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah disepakati dan dengan pembayaran tunai pada saat akad dilaksanakan.
B. Landasan hukum
a. Al-Quran
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak dengan secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya." (Qs. Al Baqarah: 282)
b. Al-Hadits
Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallhu 'anhuma, ia berkata: "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda: 'Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.'" (Muttafaqun 'alaih)
C. Rukun dan Syarat Salam
a. Rukun salam
1. Penjual (Muslam ilaih)
2. Pembeli (Muslam)
3. Obyek/barang (Muslam Fiih)
4. Harga (Ra’sul Maal as Salam)
5. Ijab Qabul (Sighat)
b. Syarat Salam
1. Pembayaran Dilakukan di Muka (kontan)
2. apabila barang yang dipesan adalah barang yang dapat ditentukan melalui penyebutan kriteria. Penyebutan kriteria ini bertujuan untuk menentukan barang yang diinginkan oleh kedua belah pihak, seakan-akan barang yang dimaksud ada dihadapan mereka berdua. Dengan demikian, ketika jatuh tempo,–diharapkan- tidak terjadi percekcokan kedua belah pihak seputar barang yang dimaksud.
3. penjual dan pembeli berkewajiban untuk menyepakati kriteria barang yang dipesan. Kriteria yang dimaksud di sini ialah segala hal yang bersangkutan dengan jenis, macam, warna, ukuran, jumlah barang serta setiap kriteria yang diinginkan dan dapat mempengaruhi harga barang.
4. kedua belah pihak diwajibkan untuk mengadakan kesepakatan tentang tempo pengadaan barang pesanan. Dan tempo yang disepakati –menurut kebanyakan ulama'- haruslah tempo yang benar-benar mempengaruhi harga barang.
5. Pada saat menjalankan akad salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk memperhitungkan ketersedian barang pada saat jatuh tempo. Persyaratan ini demi menghindarkan akad salam dari praktek tipu-menipu dan untung-untungan, yang keduanya nyata-nayata diharamkan dalam syari'at Islam
D. Aplikasi salam di perbankan syariah
Di masyarakat ada anggapan bahwa jual-beli Salam itu tidak ada bedanya dengan jual-beli Ijon . Dalam jual beli ijon, pembeli membayar lunas harga buah-buahan di pohon yang masih belum saatnya dipanen karena belum matang (masih hijau). Ketika penen tiba, berapapun jumlah buah yang ada di pohon adalah hak milik pembeli. Mungkin pembeli mendapatkan keuntungan besar ketika buah yang dipanen lebih banyak dari yang diperkirakan. Mungkin pula ia menderita kerugian ketika yang dipanen lebih sedikit dari yang diperkirakan. Jadi di sini terdapat unsur ketidak jelasan (gharar) dalam hal jumlah barang yang diperjual belikan. Demikian pula tidak ada kejelasan mengenai waktu penyerahannya.
Jual-beli Salam tidak sama dengan jual beli Ijon, karena dalam jual beli Salam kualitas dan kuantitas barang serta waktu penyerahannya sudah ditentukan dan disepakati sebelumnya, sehingga di dalamnya tidak ada unsur garar . Karena itu, bila panen buah-buahannya kurang, penjual harus memenuhinya dari pohon yang lain. Tetapi bila lebih, maka kelebihannya itu menjadi milik penjual.
Di perbankan Syariah, jual beli salam lazim ditetapkan pada pembelian alat-alat pertanian, barang-barang industri, dan kebutuhan rumah tangga. Nasabah yang memrlukan biaya untuk memproduk barang-barang industri bisa mengajukan permohonan pembiayaan ke bank syari’ah dengan skim jual-beli salam. Bank dalam hal ini berposisi sebagai pemesan (pembeli) barang yang akan diproduksi oleh nasabah. Untuk itu bank membayar harganya secara kontan. Pada waktu yang ditentukan, nasabah menyerahkan barang peasanan tersebut kepada bank. Berikutnya bank bisa menunjuk nasabah tersebut sebagai wakilnya untuk menjual barang tersebut kepada pihak ketig secara tunai. Bank bisa juga menjual kembali barang itu kepada nasabah yang memproduksinya itu secara tangguh ( bisaman ajil ) dengan mengambil keuntungan tertentu. Jadi setelah akad Salam tuntas dengan diserahkannya barang oleh nasabah (penjual) kepada bank (pembeli), masih ada beberapa akad lain yang mengiringinya. Kalau bank kemudian menunjuk nasabah tersebut sebagai wakil bank untuk menjual barang itu secara tunai kepada pihak ketiga, maka yang terjadi adalah akad jual beli murabahah bisama ajil . Dengan beralihnya kepemilikan barang itu kepada nasabah, sedangkan ia belum membayar sepeserpun kepada bank, maka timbullah dayn (hutang). Selanjutnya, walaupun tidak wajib, biasanya diikuti dengan akad rahn, dimana bank menahan barang jaminan, baik berupa barang yang sudah dibeli kembali oleh nasabah itu tadi atau barang lain.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bank tidak selalu mudah untuk menjual kembali barang industri yang dibelinya itu, baik kepada pihak ketiga maupun kepada nasabah. Untuk itu lalu dilakukanlah akad Salam parallel, yaitu dua akad salam yang dilakukan secara simultan antara bank dan nasabah di satu pihak dan antara bank dan pemasok barang (supplier) di pihak lain. Menurut Dewan Pengawas Syari’ah Rajbi Investemen Corporation, Salam paralel ini diperkenankan dengan syarat pelaksanaan akad salam yang pertama.
Di bank-bank Islam yang sudah mapan seperi di Sudan, Bahrain, dan negara-negara Timur Tengah lainnya, transaksi dilakukan dengan system Salam Tunggal. Konsekuensinya, bank harus memiliki inventory yang dikelole secara professional agar tidak mengalami kerugian. Bank juga harus menyediakan gudang tempat penyimpanan (Warehouse) barang, baik milik sendiri maupun menyewa dari pihak lain. Jadi bank dalam hal ini bertindak sebagai pedagang yang terjun langsung dalam persaingan bisnis komoditi. Sedangkan di negara-negara yang masih memegang paradigma bank sebagai intermediary institution di mana bank tidak malakukan transaksi perdagngan secara langsung, maka mekanisme yang memungkinkan adalah salam paralel. Aritinya bank melakukan transaksi salam dengan produsen (Salam pertama) jika bank sudah memiliki nasabah sebagai calon pembeli (Salam kedua). Bank dalam hal ini tidak perlu mengoperasikan gudang karena pengiriman barang bisa dilakukan langsung dari produsen kepada pembeli. Dalam prakteknya, bisa saja taransaksi antara bank dengan calon pembeli (pemesan) terjadi lebih dahulu (Salam pertama), kemudian bank mencari produsen untuk memenuhi pesanan tersebut (Salam kedua).
Adalah akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah disepakati dan dengan pembayaran tunai pada saat akad dilaksanakan.
B. Landasan hukum
a. Al-Quran
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak dengan secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya." (Qs. Al Baqarah: 282)
b. Al-Hadits
Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallhu 'anhuma, ia berkata: "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda: 'Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.'" (Muttafaqun 'alaih)
C. Rukun dan Syarat Salam
a. Rukun salam
1. Penjual (Muslam ilaih)
2. Pembeli (Muslam)
3. Obyek/barang (Muslam Fiih)
4. Harga (Ra’sul Maal as Salam)
5. Ijab Qabul (Sighat)
b. Syarat Salam
1. Pembayaran Dilakukan di Muka (kontan)
2. apabila barang yang dipesan adalah barang yang dapat ditentukan melalui penyebutan kriteria. Penyebutan kriteria ini bertujuan untuk menentukan barang yang diinginkan oleh kedua belah pihak, seakan-akan barang yang dimaksud ada dihadapan mereka berdua. Dengan demikian, ketika jatuh tempo,–diharapkan- tidak terjadi percekcokan kedua belah pihak seputar barang yang dimaksud.
3. penjual dan pembeli berkewajiban untuk menyepakati kriteria barang yang dipesan. Kriteria yang dimaksud di sini ialah segala hal yang bersangkutan dengan jenis, macam, warna, ukuran, jumlah barang serta setiap kriteria yang diinginkan dan dapat mempengaruhi harga barang.
4. kedua belah pihak diwajibkan untuk mengadakan kesepakatan tentang tempo pengadaan barang pesanan. Dan tempo yang disepakati –menurut kebanyakan ulama'- haruslah tempo yang benar-benar mempengaruhi harga barang.
5. Pada saat menjalankan akad salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk memperhitungkan ketersedian barang pada saat jatuh tempo. Persyaratan ini demi menghindarkan akad salam dari praktek tipu-menipu dan untung-untungan, yang keduanya nyata-nayata diharamkan dalam syari'at Islam
D. Aplikasi salam di perbankan syariah
Di masyarakat ada anggapan bahwa jual-beli Salam itu tidak ada bedanya dengan jual-beli Ijon . Dalam jual beli ijon, pembeli membayar lunas harga buah-buahan di pohon yang masih belum saatnya dipanen karena belum matang (masih hijau). Ketika penen tiba, berapapun jumlah buah yang ada di pohon adalah hak milik pembeli. Mungkin pembeli mendapatkan keuntungan besar ketika buah yang dipanen lebih banyak dari yang diperkirakan. Mungkin pula ia menderita kerugian ketika yang dipanen lebih sedikit dari yang diperkirakan. Jadi di sini terdapat unsur ketidak jelasan (gharar) dalam hal jumlah barang yang diperjual belikan. Demikian pula tidak ada kejelasan mengenai waktu penyerahannya.
Jual-beli Salam tidak sama dengan jual beli Ijon, karena dalam jual beli Salam kualitas dan kuantitas barang serta waktu penyerahannya sudah ditentukan dan disepakati sebelumnya, sehingga di dalamnya tidak ada unsur garar . Karena itu, bila panen buah-buahannya kurang, penjual harus memenuhinya dari pohon yang lain. Tetapi bila lebih, maka kelebihannya itu menjadi milik penjual.
Di perbankan Syariah, jual beli salam lazim ditetapkan pada pembelian alat-alat pertanian, barang-barang industri, dan kebutuhan rumah tangga. Nasabah yang memrlukan biaya untuk memproduk barang-barang industri bisa mengajukan permohonan pembiayaan ke bank syari’ah dengan skim jual-beli salam. Bank dalam hal ini berposisi sebagai pemesan (pembeli) barang yang akan diproduksi oleh nasabah. Untuk itu bank membayar harganya secara kontan. Pada waktu yang ditentukan, nasabah menyerahkan barang peasanan tersebut kepada bank. Berikutnya bank bisa menunjuk nasabah tersebut sebagai wakilnya untuk menjual barang tersebut kepada pihak ketig secara tunai. Bank bisa juga menjual kembali barang itu kepada nasabah yang memproduksinya itu secara tangguh ( bisaman ajil ) dengan mengambil keuntungan tertentu. Jadi setelah akad Salam tuntas dengan diserahkannya barang oleh nasabah (penjual) kepada bank (pembeli), masih ada beberapa akad lain yang mengiringinya. Kalau bank kemudian menunjuk nasabah tersebut sebagai wakil bank untuk menjual barang itu secara tunai kepada pihak ketiga, maka yang terjadi adalah akad jual beli murabahah bisama ajil . Dengan beralihnya kepemilikan barang itu kepada nasabah, sedangkan ia belum membayar sepeserpun kepada bank, maka timbullah dayn (hutang). Selanjutnya, walaupun tidak wajib, biasanya diikuti dengan akad rahn, dimana bank menahan barang jaminan, baik berupa barang yang sudah dibeli kembali oleh nasabah itu tadi atau barang lain.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bank tidak selalu mudah untuk menjual kembali barang industri yang dibelinya itu, baik kepada pihak ketiga maupun kepada nasabah. Untuk itu lalu dilakukanlah akad Salam parallel, yaitu dua akad salam yang dilakukan secara simultan antara bank dan nasabah di satu pihak dan antara bank dan pemasok barang (supplier) di pihak lain. Menurut Dewan Pengawas Syari’ah Rajbi Investemen Corporation, Salam paralel ini diperkenankan dengan syarat pelaksanaan akad salam yang pertama.
Di bank-bank Islam yang sudah mapan seperi di Sudan, Bahrain, dan negara-negara Timur Tengah lainnya, transaksi dilakukan dengan system Salam Tunggal. Konsekuensinya, bank harus memiliki inventory yang dikelole secara professional agar tidak mengalami kerugian. Bank juga harus menyediakan gudang tempat penyimpanan (Warehouse) barang, baik milik sendiri maupun menyewa dari pihak lain. Jadi bank dalam hal ini bertindak sebagai pedagang yang terjun langsung dalam persaingan bisnis komoditi. Sedangkan di negara-negara yang masih memegang paradigma bank sebagai intermediary institution di mana bank tidak malakukan transaksi perdagngan secara langsung, maka mekanisme yang memungkinkan adalah salam paralel. Aritinya bank melakukan transaksi salam dengan produsen (Salam pertama) jika bank sudah memiliki nasabah sebagai calon pembeli (Salam kedua). Bank dalam hal ini tidak perlu mengoperasikan gudang karena pengiriman barang bisa dilakukan langsung dari produsen kepada pembeli. Dalam prakteknya, bisa saja taransaksi antara bank dengan calon pembeli (pemesan) terjadi lebih dahulu (Salam pertama), kemudian bank mencari produsen untuk memenuhi pesanan tersebut (Salam kedua).
WADI’AH
A. Pengertian
Secara etimologi, wadi’ah berarti menempatkan sesuatu yang ditempatkan bukan pada pemliknya untuk dipelihara. Secara terminology, wadi’ah adalah mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu.
B. Landasan Hukum
a. Al-Quran
إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمنت إلى أهلها....
“sesungguhnya allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…..”
b. Al-Hadits
Ibnu umar berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda:”tiada kesempurnaan iman bagi setiap orang yang tidak beramanah, tiada shalat bagi yang tidak bersuci (HR Thabrani)
C. Rukun dan Syarat wadi’ah
a. Rukun wadi’ah
1. Orang yang berakad
2. Barang titipan
3. Sighot iajb qobul.
b. Syarat Wadi’ah
1. pihak-pihak yang melakukan transaksi harus baligh, berakal dan cerdas.
2. Barang titipan itu jelas, dan boleh di kuasai
D. Macam-macam Wadi’ah
a. Wadi’ah yad al-amanah
Wadi’ah ini mempunyai beberapa criteria, yaitu
1. Harta atau barang yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan dan digunakan oleh penerima titipan.
2. Penerima titipan hanya berfungdi sebaggai penerima amanah yang bertugas dan berkewajiban menjaga barang yang dititipkan tanpa diperkenankan untuk membebeankan biaya kepada yang menitipkan dan tidak berkewajiban atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan selama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan bagi yang dititipi.
3. Mengingat barang atau harta yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan.
b. Wadi’ah yad ad-dlomanah
Wadi’ah ini mempunyai criteria, diantaranya:
1. Harta dan barang yang dititipkan boleh dan dapat dimanfaatkan oleh yang menerima titipan.
2. Karena dimanfaatkan barang atau harta yang dititipkan tersebut dapat menghasilakn manfaat.
3. Yang dititipkan harus bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan pada barang tersebut.
E. Aplikasi wadi’ah di perbankan syariah
Dalam teknis perbankan, wadi’ah adalah akad saat pemilik dana / harta menyimpan uang atau barang yang di jaga oleh bank. Bank kemudian akan meminta izin untuk menggunakan dana tersebut dan segala keuntungan dan risikoakibat pengguna dana itu ditanggung oleh pihak bank. Bank dapat memberikan bonus kepada pemilik dana namun tidak boleh diperjanjikan di muka. Pemilik dana atau harta di berikan kebebasan untuk mengambil kembali dana / hartanya baik sebagian atau seluruhnya tanpa waktu yang ditentukan.
Untuk macam-macam wadi’ah yang telah dijelaskan perbedaannya, dalam hal ini bentuk aplikasi yang telah ada di perbankan kontroversi, di antaranya:
1. Wadi’ah yad al-amanah
- Di aplikasikan dalam jasa penitipan atau safe deposit box, seperti surat-surat berharga, seperti obligasi, surat tanah, dll.
- Mekanisme aplikasinya. Pertama nasabah datang ke bank untuk melakukan penitipan barang yang tidak ingin barangnya itu dipergunakan. Jika pihak bank sepakat, Kemudian bank meminta kepada nasabah untuk memberikan beban biaya penitipan sampai dan bank tidak betanggung jawab atas kerusakan barang milik nasabah selama tidak ada kelalaian dari pihak bank..
2. Wadi’ah yad ad-dlomanah
- Di aplikasikan pada produk giro dan tabungan.
- Mekanisme aplikasinya. Pertama nasabah datang ke bank penitipan dana yang mengizinkan dananya untuk di investasikan. Jika bank sepakat, maka bank memanfaatkan dana milik nasabah tersebut ke user of found (nasabah pengguna dana) untuk melakukan usaha. Jika usaha yang dijalankannya itu berhasil, maka keuntungan di bagi hasilkan antara user of found dan bank. Dan bank memberikan bonus ke nasabah. Dan dalam pemberian bonus, bank tidak boleh menyebutkan dalam kontrak atau pun dijanjikan dalam akad, tetapi benar-benar pemberian sepihak sebagai tanda terima kasih dari pihak bank.
Secara etimologi, wadi’ah berarti menempatkan sesuatu yang ditempatkan bukan pada pemliknya untuk dipelihara. Secara terminology, wadi’ah adalah mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu.
B. Landasan Hukum
a. Al-Quran
إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمنت إلى أهلها....
“sesungguhnya allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…..”
b. Al-Hadits
Ibnu umar berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda:”tiada kesempurnaan iman bagi setiap orang yang tidak beramanah, tiada shalat bagi yang tidak bersuci (HR Thabrani)
C. Rukun dan Syarat wadi’ah
a. Rukun wadi’ah
1. Orang yang berakad
2. Barang titipan
3. Sighot iajb qobul.
b. Syarat Wadi’ah
1. pihak-pihak yang melakukan transaksi harus baligh, berakal dan cerdas.
2. Barang titipan itu jelas, dan boleh di kuasai
D. Macam-macam Wadi’ah
a. Wadi’ah yad al-amanah
Wadi’ah ini mempunyai beberapa criteria, yaitu
1. Harta atau barang yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan dan digunakan oleh penerima titipan.
2. Penerima titipan hanya berfungdi sebaggai penerima amanah yang bertugas dan berkewajiban menjaga barang yang dititipkan tanpa diperkenankan untuk membebeankan biaya kepada yang menitipkan dan tidak berkewajiban atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan selama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan bagi yang dititipi.
3. Mengingat barang atau harta yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan.
b. Wadi’ah yad ad-dlomanah
Wadi’ah ini mempunyai criteria, diantaranya:
1. Harta dan barang yang dititipkan boleh dan dapat dimanfaatkan oleh yang menerima titipan.
2. Karena dimanfaatkan barang atau harta yang dititipkan tersebut dapat menghasilakn manfaat.
3. Yang dititipkan harus bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan pada barang tersebut.
E. Aplikasi wadi’ah di perbankan syariah
Dalam teknis perbankan, wadi’ah adalah akad saat pemilik dana / harta menyimpan uang atau barang yang di jaga oleh bank. Bank kemudian akan meminta izin untuk menggunakan dana tersebut dan segala keuntungan dan risikoakibat pengguna dana itu ditanggung oleh pihak bank. Bank dapat memberikan bonus kepada pemilik dana namun tidak boleh diperjanjikan di muka. Pemilik dana atau harta di berikan kebebasan untuk mengambil kembali dana / hartanya baik sebagian atau seluruhnya tanpa waktu yang ditentukan.
Untuk macam-macam wadi’ah yang telah dijelaskan perbedaannya, dalam hal ini bentuk aplikasi yang telah ada di perbankan kontroversi, di antaranya:
1. Wadi’ah yad al-amanah
- Di aplikasikan dalam jasa penitipan atau safe deposit box, seperti surat-surat berharga, seperti obligasi, surat tanah, dll.
- Mekanisme aplikasinya. Pertama nasabah datang ke bank untuk melakukan penitipan barang yang tidak ingin barangnya itu dipergunakan. Jika pihak bank sepakat, Kemudian bank meminta kepada nasabah untuk memberikan beban biaya penitipan sampai dan bank tidak betanggung jawab atas kerusakan barang milik nasabah selama tidak ada kelalaian dari pihak bank..
2. Wadi’ah yad ad-dlomanah
- Di aplikasikan pada produk giro dan tabungan.
- Mekanisme aplikasinya. Pertama nasabah datang ke bank penitipan dana yang mengizinkan dananya untuk di investasikan. Jika bank sepakat, maka bank memanfaatkan dana milik nasabah tersebut ke user of found (nasabah pengguna dana) untuk melakukan usaha. Jika usaha yang dijalankannya itu berhasil, maka keuntungan di bagi hasilkan antara user of found dan bank. Dan bank memberikan bonus ke nasabah. Dan dalam pemberian bonus, bank tidak boleh menyebutkan dalam kontrak atau pun dijanjikan dalam akad, tetapi benar-benar pemberian sepihak sebagai tanda terima kasih dari pihak bank.
aplikasi akuntansi dengan menggunakan komputer
BAB I
GAMBARAN UMUM AKUNTANSI
A. Pengertian Akuntansi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi mengakibatkan terjadinya perluasan pada semua kegiatan bidang usaha. Perluasan kegiatan usaha mengakibatkan pencatatan dan standar akuntansi semakin berkembang.
Perkembangan tersebut mempengaruhi pengertian akuntansi itu sendiri. Oleh karenanya, pengertian akuntansi bergantung dari sudut mana kita melihatnya.
1. Dipandang dari sudut fungsinya
Akuntansi merupakan aktivitas jasa yang menyediakan informasi yang penting sebagai alat penilaian jalannya perusahaan. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkepentingan atas informasi tersebut dapat membuat pertimbangan-pertimbangan agar dapat mengambil keputusan yan tepat.
2. Dipandang dari sudut kegiatannya
Akuntansi merupakan suatu proses pencatatan yang meliputi kegiatan identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi.
Pengertian akuntansi berdasarkan kedua sudut pandang tersebut ternyata hampir sama denganm definisi akuntansi menurut American Accounting Association yang diterjemahkan sebagai berikut:
“Akuntansi adalah proses identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi untuk memungkinkan pembuatan keputusan yang jelas dan tegas oleh pemakai informasi tersebut.”
Pengertian akuntansi bila dipandang dari sudut kegiatannya adalah meliputi proses pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran dan penyajian laporan mengenai transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu periode tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode diproses dalam beberapa tahap kegiatan yang merupakan suatu siklus.
Siklus yang terjadi dalam penyajian laporan keuangan dinamakan siklus akuntansi. Siklus akuntansi tersebut mencakup kegiatan-kegiatan berikut:
a. Pengidentifikasian
b. Pencatatan
c. Penggolongan
d. Pengikhtisaran
e. Penyusunan Laporan
Untuk lebih jelasnya makan siklus akuntansi tersebut digambarkan melalui bagan berikut ini:
B. Para Pemakai Informasi Akuntansi
Bentuk penyajian laporan keuangan dapat berupa laporan lab/rugi, laporan perubahan modal dan neraca, yang disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang membutuhkan dan berkepentingan terhadap informasi akuntansi tersebut.
Pihak-pihak yang membutuhkan informasi dari laporan akuntansi adalah sebagai berikut:
1. Pemimpin Perusahaan, yaitu sebagai:
a. bukti pertanggungjawaban kepada pemilik perusahaan;
b. dasar pertimbangan dalam menetapkan rencana maupun strategi yang akan diterapkan pada masa mendatang;
c. alat untuk menilai pelaksanaan kegiatan perusahaan secara keseluruhan;
d. alat untuk mengukur biaya-biaya dari kegiatan perusahaan.
2. Pemilik Perusahaan, yaitu sebagai:
a. alat untuk menilai keberhasilan manajemen dalam mengelola perusahaan;
b. alat untuk menilai penambahan modal, perkiraan perolehan keuntungan pada masa mendatang.
3. Kreditur, yaitu sebagai:
a. alat untuk menentukan layak atau tidaknya perusahaan tersebut diberi pinjaman atau kredit;
b. alat untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar cicilan beserta bunganya.
4. Karyawan, yaitu sebagai:
a. alat untuk melihat prospek perusahaan yang bersangkutan di masa mendatang, sebelum memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam perusahaan tersebut;
b. alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan gaji atau upah kepada pegawainya.
5. Pemerintah, yaitu sebagai:
a. alat untuk menentukan besarnya pajak yang dibebankan kepada perusahaan tersebut;
b. dasar bagi data statistik pemerintah untuk kepentingan perencanaan selanjutnya.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa ada berbagai kepentingan dari berbagai pihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
Perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, diharapkan mampu menjadi sarana atau alat untuk memudahkan pekerjaan penyelesasian siklus akuntansi.
BAB II
KOMPUTERISASI SIKLUS AKUNTANSI (STUDI KASUS)
A. Penomoran Bagan Akun
Untuk mempermudah pengaksesan suatu permasalahan (Laporan Keuangan) setiap rekening harus diberikan nomor kode. Bentuk kode yang digunakan dapat dengan banyak cara, tetapi tetap pada pengelompokkan rekening-rekening dalam lima golongan yaitu: Aktiva, Utang, Modal, Pendapatan dan Biaya.
Cara pengkodean yang digunakan pada praktek ini menggunakan metode kelompok.
Contoh:
1 1 0 1
Aktiva Aktiva Lancar Nomor Urut
Pada kode digit pertama, angka 1 menunjukkan Aktiva, sedangkan angka 1 pada digit kedua menujukkan jenis Aktiva, yaitu Aktiva Lancar. Untuk kode digit ketiga dan keempat menunjukkan Nomor Urut Kode
B. Studi Kasus
PT. Budi Luhur bergerak dalam bidang Jasa, ingin menyajikan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 1995. Adapun Neraca Saldo yang dimiliki PT. Budi Luhur per tanggal 30 November 1995 adalah sebagai berikut:
PT. Budi Luhur
NERACA SALDO
Per 30 November 1995
NO. KETERANGAN SALDO
REK. DEBET KREDIT
1101 Kas 8,000,000 -
1102 Piutang Dagang 16,000,000 -
1103 Asuransi dibayar di muka 750,000 -
1104 Advertensi dibayar di muka - -
1105 Perlengkapan Kantor 350,000 -
1201 Tanah - -
1202 Gedung 10,000,000 -
1203 Akumulasi Peny. Gedung - 1,500,000
2101 Utang Usaha - 1,500,000
2102 Utang Wesel - -
2103 Utang Gaji dan komisi - -
3101 Modal Budi Luhur - 25,000,000
3102 Prive Budi Luhur 2,500,000 -
4101 Pendapatan Jasa - 57,000,000
5101 Biaya Gaji dan Komisi 35,000,000 -
5102 Biaya Sewa 4,000,000 -
5103 Biaya Advertensi 3,400,000 -
5104 Biaya Kendaraan 3,250,000 -
5105 Macam-macam biaya 1,750,000 -
5106 Biaya Perlengkapan Kantor - -
5107 Biaya Peny. Gedung - -
5108 Biaya Asuransi - -
85,000,000 85,000,000
Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 1995 adalah sebagai berikut:
Desember (1) Dibayar sewa kantor bulan Desember Rp 500.000,-
(2) Dibeli perlengkapan kantor secara kredit Rp 150.000,-
(4) Dibeli sebidang tanah yang akan digunakan untuk pembangunan gedung kantor di masa mendatang Rp 12.500.000,- Dari jumlah tersebut Rp 2.500.000,- dibayar tunai dan sisanya dibayar dengan selembar surat wesel.
(8) Diterima pembayaran dari seorang langganan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 12.000.000,-
(11) Dikirim faktur tagihan kepada pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 950.000,-
(15) Dibayar gaji dan komisi Rp 3.700.000,-
(20) Diterima pembayaran dari seorang pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 4.500.000,-
(30) Dibayar macam-macam biaya Rp 155.000,-
(30) Dibayar biaya gaji dan komisi Rp 5.000.000,-
(31) Dibayar keperluan pribadi pemilik Rp 2.500.000,-
Penyesuaian yang terjadi pada tanggal 31 Desember 1995 adalah:
1. Perlengkapan kantor yang masih tersisa sampai akhir bulan sebesar Rp 150.000,-
2. Biaya advertensi yang terpakai adalah sebesar 1.900.000,-
3. Biaya depresiasi gedung ditaksir sebesar 10% dari harga perolehan
4. Asuransi dibayar di muka sebesar Rp 750.000,- adalah untuk 6 (enam) bulan terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1995.
5. Gaji yang masih harus dibayar hingga akhir Desember 1995 adalah sebesar Rp 250.000,-
Tugas:
1. Masukkan transaksi-transaksi di atas ke dalam Jurnal Umum
2. Buatlah Buku Besar yang diperlukan
3. Buatlah Neraca Saldo Per 31 Desember 1995
4. Buat Jurnal Penyesuaian
5. Buat Neraca Lajur per 31 Desember 1995
6. Buat Laporan Keuangan yang terdiri dari :
• Laporan Rugi/Laba
• Laporan Perubahan Modal
• Neraca
Penyelesaian:
1. Membuat Tabel Perkiraan
a. Aktifkan Sheet1, ubah nama Sheet1 menjadi Tabel Perkiraan, dengan cara didobel klik pada Sheet tulisan Sheet1.
b. Merubah nama Sheet dapat juga dilakukan dengan memilih menu Format -> Sheet -> Rename.
c. Buatlah tabel seperti dibawah ini:
2. Membuat Jurnal Umum
a. Aktifkan Sheet2, ubah nama Sheet2 menjadi Jurnal Umum.
b. Buatlah format lembar kerja seperti ini:
c. Pada Sel Nama Perkiraan (E8 pada gambar) ketikkan =vlookup(
Lalu klik sel Kode (D8 pada gambar), kemudian ketikkan Titik Koma [ ; ], kemudian klik Sheet Tabel Perkiraan, blok Isi Tabel Perkiraan, tekan F4 untuk mengunci tabel sehingga muncul tanda US Dollar [ $ ], lalu ketikkan Titik Koma [ ; ] dan selanjutnya tentukan posisi kolom dari Tabel Perkiraan yang berisi data yang akan kita ambil, yaitu posisi 2.
[Tips!] Tabel Pencarian bisa diberi nama, sehingga bersifat Absolut/Tetap, dengan cara : Blok Tabel yang ingin diberi nama, pilih menu Insert->Name->Define. Sesuai gambar, rumus menjadi =vlookup(d8;tabel;2)
d. Masukkan semua catatan transaksi yang terjadi ke dalam Sheet Jurnal Umum dengan fasilitas Data Form, dengan cara, klik salah satu isi sel Jurnal Umum, pilih menu Data->Form. Sehingga muncul tampilan seperti ini:
Masukkan semua data transaksi ke dalam Data Form, dengan klik tombol New untuk menambah record baru. Jika semua selesai dientri, klik tombol Close.
3. Membuat Buku Besar
Setelah membuat Jurnal Umum, dalam proses Pelaporan Keuangan, langkah selanjutnya adalah membuat Buku Besar untuk mengelompokkan jenis transaksi yang ada sesuai dengan Kode Perkiraan. Langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Ubahlah nama-nama Sheet setelah Jurnal Umum. Sheet3 diubah menjadi BB Aktiva Lancar, Sheet4 diubah menjadi BB Aktiva Tetap, Sheet5 diubah menjadi BB Hutang Lancar, Sheet6 menjadi BB Modal, Sheet7 menjadi BB Pendapatan dan Sheet8 menjadi BB Biaya.
b. Aktifkan Sheet BB Aktiva Lancar, buatlah tampilan seperti di bawah ini:
c. Pada sel D4 ketikkan formula: =vlookup(F3;tabel;2) sehingga pada sel D4 muncul kata “Kas”
d. Buku Besar Kas telah selesai anda buat, sekarang untuk mengisi datanya anda harus menggunakan fasilitas Advanced Filter.
e. Pada Buku Besar Kas yang ada di sheet BB Aktiva Lancar, Klik salah satu bagian header Buku Besar Kas, pilih menu Data->Filter->Advanced Filter , bila perlu klik OK.
f. Pada kotak dialog yang muncul, pastikan pilihan Copy to another location diaktifkan. Klik kotak isian List Range, kosongkan isinya, klik sheet Jurnal Umum, blok isi Jurnal Umum beserta sebaris headernya yang terdekat.
g. Pada kotak isian Criteria Range kosongkan isinya bila perlu, data pada kotak isian ini diisi dengan cara mengeblok sel F2 dan F3 sekaligus (berisi kata “Kode” dan Nomor Kode Perkiraan buku besar kas).
h. Kotak isian Copy to, data diisi dengan cara mengeblok sebaris header pada Buku Besar Kas yang berisi Tgl, Bln, Thn, Kode, Perkiraan, Debet, Kredit.
i. Jika selesai klik OK, dan lihatlah hasilnya. Jika penempatan rumus anda benar, maka akan muncul sejumlah transaksi dari Jurnal Umum yang difilter dan dikelompokkan berdasarkan kode perkiraan yang dijadikan kriteria.
j. Lakukan hal yang sama dalam pembuatan Buku Besar lainnya. Sesuaikan Criteria Range, berdasarkan Kode Perkiraan masing-masing buku besar.
k. Selesaikan kolom Saldo Akhir yang ada di tiap Buku Besar.
4. Membuat Neraca Saldo
Dengan selesainya Buku Besar, maka Neraca Saldo dapat dibuat dengan cara:
a. Aktifkan Sheet9, ubah nama Sheet menjadi Neraca Saldo, copy data yang ada di Tabel Perkiraan untuk mendapatkan data semua Kode Perkiraan dan Nama Perkiraan.
b. Masukkan seluruh saldo akhir yang ada di setiap buku besar, ke dalam Neraca Saldo.
5. Membuat Jurnal Penyesuaian
a. Aktifkan Sheet10, ubah nama Sheet menjadi JurnalPenyesuaian. Buatlah tampilan seperti ini:
PT. Budi Luhur
Jurnal Penyesuaian
Per 31 Desember 1995
NO. SALDO
REK. KETERANGAN DEBET KREDIT
b. Masukkan data penyesuaian yang ada, seperti halnya memasukkan data Jurnal Umum.
6. Membuat Neraca Lajur
Neraca Lajur dibuat karena ada transaksi yang belum dimasukkan di akhir periode misalnya data penyesuaian.
a. Aktifkan Sheet11, ubah nama Sheet menjadi Neraca Lajur. Buatlah tampilan sebagai berikut:
b. Copy data yang ada pada Sheet Neraca Saldo kemudian pindahkan ke Neraca Lajur khususnya pada sel A7
c. Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Debet dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomDebetPenyesuaian)
Catatan:
TabelPenyesuaian hanya diblok isinya saja/tanpa header
KodeNeracaLajur pada gambar misalnya sel A7
KolomDebetPenyesuaian adalah hasil blok seluruh nilai yang ada di Kolom Debet pada Jurnal Penyesuaian.
d. Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Kredit dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomKreditPenyesuaian)
e. Selesaikan kolom NSPP (Neraca Saldo Setelah Penyesuaian) dengan rumus sebagai berikut:
NSPP Debet:
NSPP Kredit:
f. Gunakan fungsi IF untuk menyelesaikan kolom Rugi/Laba. Karena kode untuk Rugi/Laba memiliki kepala digit 4 (4xxx) sampai dengan digit 5 (5xxx) maka rumus yang digunakan adalah:
DEBET : =IF(kode>=4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode>=4000;NSPP.Kredit;0)
g. Menyelesaikan kolom Neraca Akhir sama dengan cara penyelesaian kolm Rugi/Laba, hanya saja logikanya dibalik dengan rumus sebagai berikut:
DEBET : =IF(kode<4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode<4000;NSPP.Kredit;0)
7. Membuat Laporan Keuangan
a. Aktifkan Sheet12, ubah nama Sheet menjadi RugiLaba
b. Copy data Nomer Rekening dan Keterangan yang ada pada Sheet Neraca Lajur untuk nilai Kode >= 4000, letakkan hasil copy ke Sheet RugiLaba.
c. Untuk data angka, masukkan dengan cara sebagai berikut:
DEBET : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPDebet)
KREDIT : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPKredit)
Catatan:
• TabelNeracaLajur hanya diblok isinya saja, tanpa header
• KolomNSPPDebet adalah letak kolom NSPPDebet di Neraca Lajur (kolom ke-n)
• KolomNSPPKredit adalah letak kolom NSPPKredit di Neraca Lajur (kolom ke-n)
d. Data angka yang ada di Neraca lajur juga dapat dipindahkan dengan cara sebagai berikut:
Blok data angka Debet dan Kredit di kolom Rugi/Laba untuk Kode >=4000, tekan CTRL-C dan pindahlah ke Sheet RugiLaba letakkan kursor di tempat yang diinginkan, pilih menu Edit->Paste Special dan pada Option Paste, aktifkan pilihan Values, klik OK.
a. Aktifkan Sheet13, ubah nama Sheet menjadi PerubahanModal
b. Untuk Laporan Perubahan Modal, semua kata-katanya diketik sendiri, tetapi untuk angkanya bisa mengambil dari data yang sudah ada.
Contoh: Modal Awal angkanya diambil dari Neraca lajur dengan mengklik angka yang akan dicopy, tekan CTRL-C, dan hasil copy diletakkan dilokasi yang diinginkan. Begitu juga untuk data Prive dan Laba Bersih.
a. Aktifkan Sheet14, ubah nama Sheet menjadi Neraca
b. Untuk Neraca, cara mengambil datanya sama dengan penyusunan Laporan Rugi Laba.
GAMBARAN UMUM AKUNTANSI
A. Pengertian Akuntansi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi mengakibatkan terjadinya perluasan pada semua kegiatan bidang usaha. Perluasan kegiatan usaha mengakibatkan pencatatan dan standar akuntansi semakin berkembang.
Perkembangan tersebut mempengaruhi pengertian akuntansi itu sendiri. Oleh karenanya, pengertian akuntansi bergantung dari sudut mana kita melihatnya.
1. Dipandang dari sudut fungsinya
Akuntansi merupakan aktivitas jasa yang menyediakan informasi yang penting sebagai alat penilaian jalannya perusahaan. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkepentingan atas informasi tersebut dapat membuat pertimbangan-pertimbangan agar dapat mengambil keputusan yan tepat.
2. Dipandang dari sudut kegiatannya
Akuntansi merupakan suatu proses pencatatan yang meliputi kegiatan identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi.
Pengertian akuntansi berdasarkan kedua sudut pandang tersebut ternyata hampir sama denganm definisi akuntansi menurut American Accounting Association yang diterjemahkan sebagai berikut:
“Akuntansi adalah proses identifikasi, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi untuk memungkinkan pembuatan keputusan yang jelas dan tegas oleh pemakai informasi tersebut.”
Pengertian akuntansi bila dipandang dari sudut kegiatannya adalah meliputi proses pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran dan penyajian laporan mengenai transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu periode tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode diproses dalam beberapa tahap kegiatan yang merupakan suatu siklus.
Siklus yang terjadi dalam penyajian laporan keuangan dinamakan siklus akuntansi. Siklus akuntansi tersebut mencakup kegiatan-kegiatan berikut:
a. Pengidentifikasian
b. Pencatatan
c. Penggolongan
d. Pengikhtisaran
e. Penyusunan Laporan
Untuk lebih jelasnya makan siklus akuntansi tersebut digambarkan melalui bagan berikut ini:
B. Para Pemakai Informasi Akuntansi
Bentuk penyajian laporan keuangan dapat berupa laporan lab/rugi, laporan perubahan modal dan neraca, yang disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang membutuhkan dan berkepentingan terhadap informasi akuntansi tersebut.
Pihak-pihak yang membutuhkan informasi dari laporan akuntansi adalah sebagai berikut:
1. Pemimpin Perusahaan, yaitu sebagai:
a. bukti pertanggungjawaban kepada pemilik perusahaan;
b. dasar pertimbangan dalam menetapkan rencana maupun strategi yang akan diterapkan pada masa mendatang;
c. alat untuk menilai pelaksanaan kegiatan perusahaan secara keseluruhan;
d. alat untuk mengukur biaya-biaya dari kegiatan perusahaan.
2. Pemilik Perusahaan, yaitu sebagai:
a. alat untuk menilai keberhasilan manajemen dalam mengelola perusahaan;
b. alat untuk menilai penambahan modal, perkiraan perolehan keuntungan pada masa mendatang.
3. Kreditur, yaitu sebagai:
a. alat untuk menentukan layak atau tidaknya perusahaan tersebut diberi pinjaman atau kredit;
b. alat untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar cicilan beserta bunganya.
4. Karyawan, yaitu sebagai:
a. alat untuk melihat prospek perusahaan yang bersangkutan di masa mendatang, sebelum memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam perusahaan tersebut;
b. alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan gaji atau upah kepada pegawainya.
5. Pemerintah, yaitu sebagai:
a. alat untuk menentukan besarnya pajak yang dibebankan kepada perusahaan tersebut;
b. dasar bagi data statistik pemerintah untuk kepentingan perencanaan selanjutnya.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa ada berbagai kepentingan dari berbagai pihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
Perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, diharapkan mampu menjadi sarana atau alat untuk memudahkan pekerjaan penyelesasian siklus akuntansi.
BAB II
KOMPUTERISASI SIKLUS AKUNTANSI (STUDI KASUS)
A. Penomoran Bagan Akun
Untuk mempermudah pengaksesan suatu permasalahan (Laporan Keuangan) setiap rekening harus diberikan nomor kode. Bentuk kode yang digunakan dapat dengan banyak cara, tetapi tetap pada pengelompokkan rekening-rekening dalam lima golongan yaitu: Aktiva, Utang, Modal, Pendapatan dan Biaya.
Cara pengkodean yang digunakan pada praktek ini menggunakan metode kelompok.
Contoh:
1 1 0 1
Aktiva Aktiva Lancar Nomor Urut
Pada kode digit pertama, angka 1 menunjukkan Aktiva, sedangkan angka 1 pada digit kedua menujukkan jenis Aktiva, yaitu Aktiva Lancar. Untuk kode digit ketiga dan keempat menunjukkan Nomor Urut Kode
B. Studi Kasus
PT. Budi Luhur bergerak dalam bidang Jasa, ingin menyajikan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 1995. Adapun Neraca Saldo yang dimiliki PT. Budi Luhur per tanggal 30 November 1995 adalah sebagai berikut:
PT. Budi Luhur
NERACA SALDO
Per 30 November 1995
NO. KETERANGAN SALDO
REK. DEBET KREDIT
1101 Kas 8,000,000 -
1102 Piutang Dagang 16,000,000 -
1103 Asuransi dibayar di muka 750,000 -
1104 Advertensi dibayar di muka - -
1105 Perlengkapan Kantor 350,000 -
1201 Tanah - -
1202 Gedung 10,000,000 -
1203 Akumulasi Peny. Gedung - 1,500,000
2101 Utang Usaha - 1,500,000
2102 Utang Wesel - -
2103 Utang Gaji dan komisi - -
3101 Modal Budi Luhur - 25,000,000
3102 Prive Budi Luhur 2,500,000 -
4101 Pendapatan Jasa - 57,000,000
5101 Biaya Gaji dan Komisi 35,000,000 -
5102 Biaya Sewa 4,000,000 -
5103 Biaya Advertensi 3,400,000 -
5104 Biaya Kendaraan 3,250,000 -
5105 Macam-macam biaya 1,750,000 -
5106 Biaya Perlengkapan Kantor - -
5107 Biaya Peny. Gedung - -
5108 Biaya Asuransi - -
85,000,000 85,000,000
Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Desember 1995 adalah sebagai berikut:
Desember (1) Dibayar sewa kantor bulan Desember Rp 500.000,-
(2) Dibeli perlengkapan kantor secara kredit Rp 150.000,-
(4) Dibeli sebidang tanah yang akan digunakan untuk pembangunan gedung kantor di masa mendatang Rp 12.500.000,- Dari jumlah tersebut Rp 2.500.000,- dibayar tunai dan sisanya dibayar dengan selembar surat wesel.
(8) Diterima pembayaran dari seorang langganan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 12.000.000,-
(11) Dikirim faktur tagihan kepada pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 950.000,-
(15) Dibayar gaji dan komisi Rp 3.700.000,-
(20) Diterima pembayaran dari seorang pelanggan yang telah menggunakan jasa perusahaan, secara kredit Rp 4.500.000,-
(30) Dibayar macam-macam biaya Rp 155.000,-
(30) Dibayar biaya gaji dan komisi Rp 5.000.000,-
(31) Dibayar keperluan pribadi pemilik Rp 2.500.000,-
Penyesuaian yang terjadi pada tanggal 31 Desember 1995 adalah:
1. Perlengkapan kantor yang masih tersisa sampai akhir bulan sebesar Rp 150.000,-
2. Biaya advertensi yang terpakai adalah sebesar 1.900.000,-
3. Biaya depresiasi gedung ditaksir sebesar 10% dari harga perolehan
4. Asuransi dibayar di muka sebesar Rp 750.000,- adalah untuk 6 (enam) bulan terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1995.
5. Gaji yang masih harus dibayar hingga akhir Desember 1995 adalah sebesar Rp 250.000,-
Tugas:
1. Masukkan transaksi-transaksi di atas ke dalam Jurnal Umum
2. Buatlah Buku Besar yang diperlukan
3. Buatlah Neraca Saldo Per 31 Desember 1995
4. Buat Jurnal Penyesuaian
5. Buat Neraca Lajur per 31 Desember 1995
6. Buat Laporan Keuangan yang terdiri dari :
• Laporan Rugi/Laba
• Laporan Perubahan Modal
• Neraca
Penyelesaian:
1. Membuat Tabel Perkiraan
a. Aktifkan Sheet1, ubah nama Sheet1 menjadi Tabel Perkiraan, dengan cara didobel klik pada Sheet tulisan Sheet1.
b. Merubah nama Sheet dapat juga dilakukan dengan memilih menu Format -> Sheet -> Rename.
c. Buatlah tabel seperti dibawah ini:
2. Membuat Jurnal Umum
a. Aktifkan Sheet2, ubah nama Sheet2 menjadi Jurnal Umum.
b. Buatlah format lembar kerja seperti ini:
c. Pada Sel Nama Perkiraan (E8 pada gambar) ketikkan =vlookup(
Lalu klik sel Kode (D8 pada gambar), kemudian ketikkan Titik Koma [ ; ], kemudian klik Sheet Tabel Perkiraan, blok Isi Tabel Perkiraan, tekan F4 untuk mengunci tabel sehingga muncul tanda US Dollar [ $ ], lalu ketikkan Titik Koma [ ; ] dan selanjutnya tentukan posisi kolom dari Tabel Perkiraan yang berisi data yang akan kita ambil, yaitu posisi 2.
[Tips!] Tabel Pencarian bisa diberi nama, sehingga bersifat Absolut/Tetap, dengan cara : Blok Tabel yang ingin diberi nama, pilih menu Insert->Name->Define. Sesuai gambar, rumus menjadi =vlookup(d8;tabel;2)
d. Masukkan semua catatan transaksi yang terjadi ke dalam Sheet Jurnal Umum dengan fasilitas Data Form, dengan cara, klik salah satu isi sel Jurnal Umum, pilih menu Data->Form. Sehingga muncul tampilan seperti ini:
Masukkan semua data transaksi ke dalam Data Form, dengan klik tombol New untuk menambah record baru. Jika semua selesai dientri, klik tombol Close.
3. Membuat Buku Besar
Setelah membuat Jurnal Umum, dalam proses Pelaporan Keuangan, langkah selanjutnya adalah membuat Buku Besar untuk mengelompokkan jenis transaksi yang ada sesuai dengan Kode Perkiraan. Langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Ubahlah nama-nama Sheet setelah Jurnal Umum. Sheet3 diubah menjadi BB Aktiva Lancar, Sheet4 diubah menjadi BB Aktiva Tetap, Sheet5 diubah menjadi BB Hutang Lancar, Sheet6 menjadi BB Modal, Sheet7 menjadi BB Pendapatan dan Sheet8 menjadi BB Biaya.
b. Aktifkan Sheet BB Aktiva Lancar, buatlah tampilan seperti di bawah ini:
c. Pada sel D4 ketikkan formula: =vlookup(F3;tabel;2) sehingga pada sel D4 muncul kata “Kas”
d. Buku Besar Kas telah selesai anda buat, sekarang untuk mengisi datanya anda harus menggunakan fasilitas Advanced Filter.
e. Pada Buku Besar Kas yang ada di sheet BB Aktiva Lancar, Klik salah satu bagian header Buku Besar Kas, pilih menu Data->Filter->Advanced Filter , bila perlu klik OK.
f. Pada kotak dialog yang muncul, pastikan pilihan Copy to another location diaktifkan. Klik kotak isian List Range, kosongkan isinya, klik sheet Jurnal Umum, blok isi Jurnal Umum beserta sebaris headernya yang terdekat.
g. Pada kotak isian Criteria Range kosongkan isinya bila perlu, data pada kotak isian ini diisi dengan cara mengeblok sel F2 dan F3 sekaligus (berisi kata “Kode” dan Nomor Kode Perkiraan buku besar kas).
h. Kotak isian Copy to, data diisi dengan cara mengeblok sebaris header pada Buku Besar Kas yang berisi Tgl, Bln, Thn, Kode, Perkiraan, Debet, Kredit.
i. Jika selesai klik OK, dan lihatlah hasilnya. Jika penempatan rumus anda benar, maka akan muncul sejumlah transaksi dari Jurnal Umum yang difilter dan dikelompokkan berdasarkan kode perkiraan yang dijadikan kriteria.
j. Lakukan hal yang sama dalam pembuatan Buku Besar lainnya. Sesuaikan Criteria Range, berdasarkan Kode Perkiraan masing-masing buku besar.
k. Selesaikan kolom Saldo Akhir yang ada di tiap Buku Besar.
4. Membuat Neraca Saldo
Dengan selesainya Buku Besar, maka Neraca Saldo dapat dibuat dengan cara:
a. Aktifkan Sheet9, ubah nama Sheet menjadi Neraca Saldo, copy data yang ada di Tabel Perkiraan untuk mendapatkan data semua Kode Perkiraan dan Nama Perkiraan.
b. Masukkan seluruh saldo akhir yang ada di setiap buku besar, ke dalam Neraca Saldo.
5. Membuat Jurnal Penyesuaian
a. Aktifkan Sheet10, ubah nama Sheet menjadi JurnalPenyesuaian. Buatlah tampilan seperti ini:
PT. Budi Luhur
Jurnal Penyesuaian
Per 31 Desember 1995
NO. SALDO
REK. KETERANGAN DEBET KREDIT
b. Masukkan data penyesuaian yang ada, seperti halnya memasukkan data Jurnal Umum.
6. Membuat Neraca Lajur
Neraca Lajur dibuat karena ada transaksi yang belum dimasukkan di akhir periode misalnya data penyesuaian.
a. Aktifkan Sheet11, ubah nama Sheet menjadi Neraca Lajur. Buatlah tampilan sebagai berikut:
b. Copy data yang ada pada Sheet Neraca Saldo kemudian pindahkan ke Neraca Lajur khususnya pada sel A7
c. Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Debet dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomDebetPenyesuaian)
Catatan:
TabelPenyesuaian hanya diblok isinya saja/tanpa header
KodeNeracaLajur pada gambar misalnya sel A7
KolomDebetPenyesuaian adalah hasil blok seluruh nilai yang ada di Kolom Debet pada Jurnal Penyesuaian.
d. Masukkan data pada lajur Penyesuaian -> Kredit dengan rumus sebagai berikut:
=sumif(TabelPenyesuian;KodeNeracaLajur;KolomKreditPenyesuaian)
e. Selesaikan kolom NSPP (Neraca Saldo Setelah Penyesuaian) dengan rumus sebagai berikut:
NSPP Debet:
NSPP Kredit:
f. Gunakan fungsi IF untuk menyelesaikan kolom Rugi/Laba. Karena kode untuk Rugi/Laba memiliki kepala digit 4 (4xxx) sampai dengan digit 5 (5xxx) maka rumus yang digunakan adalah:
DEBET : =IF(kode>=4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode>=4000;NSPP.Kredit;0)
g. Menyelesaikan kolom Neraca Akhir sama dengan cara penyelesaian kolm Rugi/Laba, hanya saja logikanya dibalik dengan rumus sebagai berikut:
DEBET : =IF(kode<4000;NSPP.Debet;0)
KREDIT : =IF(kode<4000;NSPP.Kredit;0)
7. Membuat Laporan Keuangan
a. Aktifkan Sheet12, ubah nama Sheet menjadi RugiLaba
b. Copy data Nomer Rekening dan Keterangan yang ada pada Sheet Neraca Lajur untuk nilai Kode >= 4000, letakkan hasil copy ke Sheet RugiLaba.
c. Untuk data angka, masukkan dengan cara sebagai berikut:
DEBET : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPDebet)
KREDIT : =vlookup(Kode;TabelNeracaLajur;KolomNSPPKredit)
Catatan:
• TabelNeracaLajur hanya diblok isinya saja, tanpa header
• KolomNSPPDebet adalah letak kolom NSPPDebet di Neraca Lajur (kolom ke-n)
• KolomNSPPKredit adalah letak kolom NSPPKredit di Neraca Lajur (kolom ke-n)
d. Data angka yang ada di Neraca lajur juga dapat dipindahkan dengan cara sebagai berikut:
Blok data angka Debet dan Kredit di kolom Rugi/Laba untuk Kode >=4000, tekan CTRL-C dan pindahlah ke Sheet RugiLaba letakkan kursor di tempat yang diinginkan, pilih menu Edit->Paste Special dan pada Option Paste, aktifkan pilihan Values, klik OK.
a. Aktifkan Sheet13, ubah nama Sheet menjadi PerubahanModal
b. Untuk Laporan Perubahan Modal, semua kata-katanya diketik sendiri, tetapi untuk angkanya bisa mengambil dari data yang sudah ada.
Contoh: Modal Awal angkanya diambil dari Neraca lajur dengan mengklik angka yang akan dicopy, tekan CTRL-C, dan hasil copy diletakkan dilokasi yang diinginkan. Begitu juga untuk data Prive dan Laba Bersih.
a. Aktifkan Sheet14, ubah nama Sheet menjadi Neraca
b. Untuk Neraca, cara mengambil datanya sama dengan penyusunan Laporan Rugi Laba.
KOMUNIKASI BISNIS Komunikasi dan Hubungan antar Pribadi
BAB I
DAFTAR ISI
BAB I DAFTAR ISI
BAB II PENDAHULUAN
BAB III PEMBAHASAN
A. Definisi dan Pendekatan Komunikasi Antar Pribadi (KAP)
B. Tujuan komunikasi antar pribadi
C. Elemen-Elemen Komunikasi Antarpribadi
D. Faktor-faktor yang mem pengaruhi individu dalam KAP
E. Tiga pendekatan utama tentang pemikiran KAP
F. Ciri-ciri KAP
G. Efektifitas KAP
H. Fungsi Kominikasi antar Pribadi
BAB IV KESIMPULAN
BAB V PENUTUP
BAB II
PENDAHULUAN
Pergaulan manusia merupakan salah satu bentuk peristiwa komunikasi dalam masyarakat. Dan di antara manusia yang saling bergaul, ada yang saling membagi informasi, namun ada pula yang membagi gagasan dan sikap. Bahwa dalam pergaulan antarmanusia pula selalu terjadi proses penyesuaian pikiran, penciptaan simbol yang mengandung suatu pengertian bersama. Dalam menjalin komunikasi untuk saling membagi informasi kepada orang lain merupakan bentuk dari komunikasi antar pribadi. Dan dalam hal ini penulis akan membahas sekemampuan penulis dengan tujuan agar pembaca memahami apa itu komunikasi antar pribadi yang sesungguhnya.
Semoga makalah ini bermanfaat di bagi kita semua.
PEMBAHASAN
A. Definisi dan Pendekatan Komunikasi Antar Pribadi (KAP)
KAP adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang.
Komunikasi Interpersonal (KIP) adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.
KIP Antara Dua Orang adalah komunikasi dari seseorang ke orang lain, dua arah interaksi verbal dan nonverbal yang menyangkut saling berbagi informasi dan perasaan.
KIP Antara Tiga Orang/ lebih, menyangkut komunikasi dari orang ke beberapa oarng lain (kelompok kecil). Masing-masing anggota menyadari keberadaan anggota lain, memiliki minat yang sama dan/atau bekerja untuk suatu tujuan.
B. Tujuan komunikasi antar pribadi
a. Sebagai sarana pembelajaran. Melalui komunikasi antarpribadi kita belajar untuk lebih memahami dunia luar atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini. Walaupun sebagian besar informasi tersebut kita dapatkan melalui media massa, informasi tersebut dapat kita bicarakan melalui komunikasi antarpribadi.
b. Mengenal diri sendiri dan orang lain. Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat mengenal diri kita sendiri. Dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada orang lain, kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Persepsi diri kita sebagian besar merupakan hasil interkasi kita dengan orang lain.
c. Membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk social, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.
d. Dapat mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan.
e. Dapat mengakrabkan diri kita dengan orang lain. Bermain dan mencari hiburan. Dalam berkomunikasi tidak selamanya kita selalu berusaha mempengaruhi orang lain. Kita berkomunikasi juga untuk memperoleh kesenangan. Bercerita tentang film yang kita tonton, melontarkan lelucon, membicarakan hobi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperolah hiburan.
f. Menumbuhkan simpati melalui sikap positif dari lubuk hati misalnya dengan menjadi sukarelawan, memberikan dukungan moriil, atau memberikan dana, obat, makanan, pakaian, atau bangunan kepada mereka yang membutuhkan.
C. Elemen-Elemen Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi memiliki elemen sebagai berikut :
a. Source-Receiver
Dalam prosesnya komunikasi antarpribadi melibatkan dua orang. Masing-masing orang memformulasi dan mengirimkan pesan (fungsi source) serta merasa dan memahami pesan (fungsi receiver). Hubungan source-receiver tersebut menegaskan bahwa kedua fungsi tersebut diperankan oleh masing-masing individu dalam komunikasi antarpribadi. Latar belakang seseorang akan mempengaruhi pesan yang disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Pendidikan yang dimiliki oleh lawan bicara kita juga turut mempengaruhi cara kita berkomunikasi.
b. Encoding-Decoding
Encoding merupakan proses yang dilakukan untuk memproduksi pesan.Sumber harus merubah perasaan atau pikiran Untuk menyampaikan apa yang ada di dalam hati (perasaan) atau apa yang ada di dalam kepala (pikiran), sumber harus merubah perasaan atau pikiran tersebut ke dalam seperangkat symbol verbal maupun non verbal yang dapat dimengerti oleh penerima pesan. Proses inilah yang disebut penyandian (encoding).
Decoding adalah kebalikan dari encoding, yang merupakan perbuatan untuk memahami pesan. Pengalaman masa lalu (field of experience), rujukan nilai (frame of reference), pengetahuan, persepsi, pola pikir, perasaan, penerima pesan ini menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat symbol verbal maupun non verbal menjadi gagasan yang dapat dipahami. Proses inilah yang disebut penyandian balik (decoding).
Istilah encoding-decoding digunakan untuk menegaskan bahwa kedua aktivitas tersebut dilakukan oleh kedua belah pihak secara bergantian. Supaya komunikasi antarpribadi dapat terjadi, pesan harus di encoding dan decoding.
c. Competence
Kemampuan untuk dapat melakukan komunikasi secara efektif merupakan kemampuan yang harus dimiliki dalam komunikasi antarpribadi. Kemampuan tersebut antara lain adalah kemampuan untuk mengetahui pembicaraan yang sesuai dengan orang yang diajak bicara, pengetahuan tentang aturan dalam tingkah laku non verbal ( misalnya : ketepatan dalam sentuhan, volume suara, kedekatan fisik ) merupakan salah satu kemampuan dalam komunikasi antarpribadi. Singkatnya, kemampuan antarpribadi meliputi bagaimana mengatur komunikasi berdasarkan suasana dalam interaksi, siapa yang diajak berinteraksi dst.
d. Messages
Pesan merupakan sinyal yang berperan sebagai stimuli untuk penerima pesan, dapat didengar, dilihat, disentuh, dicium, dirasakan atau dipadukan. Kita berkomunikasi secara personal melalui bahasa tubuh dan melalui kata-kata. Pakaian yang kita kenakan, cara berjalan, duduk, tersenyum mengkomunikasikan siapa diri kita baik kepada orang lain maupun diri kita sendiri.
e. Feedback Messages
Keseluruhan dari proses komunikasi antarpribadi adalah kita saling memberi umpan balik, pesan dikirimkan kembali kepada pembicara atas reaksi yang telah dikatakan. Umpan balik memberitahukan kepada penanya apa pengaruh dari pesan bagi pendengarnya. Umpan balik ini digunakan sebagai dasar oleh pembicara untuk mengatur,memodifikasi,memperkuat,menegaskan atau mengubah konteks pesan.
Umpan balik dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Saat mengirimkan pesan kita juga mendengarkan diri sendiri : kita mendengarkan apa yang kita katakan, merasakan apa yang kita lakukan dan melihat apa yang kita tulis. Sebagai tambahan dari umpan balik diri sendiri, kita mendapat umpan balik dari orang lain.
f. Channel
Channel adalah media dimana pesan melintas. Bisa dianalogikan sebagai jembatan yang menghubungkan antara sumber dan penerima.Komunikasi biasanya menggunakan lebih dari satu saluran. Misalnya pada saat komunikasi empat mata, kita tidak hanya berbicara dan mendengar tetapi juga menggunakan gesture dan menerima signal virtual. Selain itu channel juga dapat rusak. Misalnya, apabila komunikator atau receiver buta atau tuli. Hal ini tentu akan menghambat penyampaian pesan.
g. Noise
Noise adalah gangguan yang terjadi pada saat proses penyampaian pesan dan dapat menghambat proses komunikasi. Noise dapat berupa fisik (suara gaduh, orang yang batuk dll),prasangka maupun kesalahpahaman. Salah satu konsep dalam memahami noise dan kepentingannya dalam komunikasi adalah signal-to-noise ratio. Signal yang diberi makna adalah informasi yang dianggap penting dan noise adalah informasi yang tidak berguna.
h. Ethics
Dikarenakan adanya konsekuensi atau dampak, komunikasi juga melibatkan etika. Setiap kegiatan komunikasi memiliki dimensi moral dan norma-norma kebenaran. Proses komunikasi harus dibarengi oleh etika dan juga keefektifan serta kepuasan.
D. Faktor-faktor yang mem pengaruhi individu dalam KAP
Komunikasi antarpribadi dimulai dari diri individu. Tampilan komunikasi yang muncul dalam setiap kita berkomunikasi mencerminkan kepribadian dari setiap individu yang berkomunikasi. Pemahaman terhadap proses pembentukan keperibadian setiap pihak yang terlibat dalam komunikasi menjadi penting dan mempengaruhi keberhasilan komunikasi. Tampilan komunikasi yang teramati/tampak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak terlihat, tapi terasa pengaruhnya, yaitu:
a. Meaning (makna).
Ketika simbol ada, maka makna itu ada dan bagaimana cara menanggapinya. Intonasi suara, mimik muka, kata-kata, gambar dsb. Merupakan simbol yang mewakili suatu makna. Misalnya intonasi yang tinggi dimaknai dengan kemarahan, kata pohon mewakili tumbuhan dsb.
b. learning.
Interpretasi makna terhadap simbol muncul berdasarkan pola-pola komunikasi yang diasosiasikan pengalaman, interpretasi muncul dari belajar yang diperoleh dari pengalaman. Interpretasi muncul disegala tindakan mengikuti aturan yang diperoleh melalui pengalaman.
Pengalaman merupakan rangkaian proses memahami pesan berdasarkan yang kita pelajari. Jadi makna yang kita berikan merupakan hasil belajar. Membaca, menulis, menghitung adalah proses belajar dari lingkungan formal. Jadi, kemampuan kita berkomunikasi merupakan hasil learning (belajar) dari lingkungan.
c. Subjectivity.
Pengalaman setiap individu tidak akan pernah benar-benar sama, sehingga individu dalam meng-encode (menyusun atau merancang) dan men-decode (menerima dan mengartikan) pesan tidak ada yang benar-benar sama. Interpretasi dari dua orang yang berbeda akan berbeda terhadap objek yang sama.
d. Negotiation.
Komunikasi merupakan pertukaran symbol. Pihak-pihak yang berkomunikasi masing-masing mempunyai tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam upaya itu terjadi negosiasi dalam pemilihan simbol dan makna sehingga tercapai saling pengertian. Pertukaran simbol sama dengan proses pertukaran makna. Dan masing-masing pihak harus menyesuaikan makna satu sama lain.
e. Culture.
Setiap individu adalah hasil belajar dari dan dengan orang lain. Individu adalah partisipan dari kelompok, organisasi dan anggota masyarakat Melalui partisipasi berbagi simbol dengan orang lain, kelompok, organisasi dan masyarakat. Simbol dan makna adalah bagian dari lingkungan budaya yang kita terima dan kita adaptasi. Melalui komunikasi budaya diciptakan, dipertahankan dan dirubah. Budaya menciptakan cara pandang (point of view).
f. Interacting levels and context.
Komunikasi antar manusia berlangsung dalam bermacam konteks dan tingkatan. Lingkup komunikasi setiap individu sangat beragam mulai dari komunikasi antar pribadi, kelompok, organisasi, dan massa.
g. Self Reference.
Perilaku dan simbol-simbol yang digunakan individu mencerminkan pengalaman yang dimilikinya, artinya sesuatu yang kita katakan dan lakukan dan cara kita menginterpretasikan kata dan tindakan orang adalah refleksi makna, pengalaman, kebutuhan dan harapan-harapan kita.
h. Self Reflexivity.
Kesadaran diri (self-cosciousnes)merupakan keadaan dimana seseorang memandang dirinya sendiri (cermin diri) sebagai bagian dari lingkungan. Inti dari proses komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungannya dan itu berpengaruh pada komunikasi.
i. Inevitability.
Kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Walaupun kita tidak melakukan apapun tetapi diam kita akan tercermin dari nonverbal yang terlihat, dan itu mengungkap suatu makna komunikasi.
E. Tiga pendekatan utama tentang pemikiran KAP berdasarkan:
a. Komponen-komponen utama
Bittner (1985:10) menerangkan KAP berlangsung, bila pengirim menyampaikan informasi berupa kata-kata kepada penerima dengan menggunakan medium suara manusia (human voice).
Menurut Barnlund , ciri-ciri mengenali KAP sebagai berikut : (a) bersifat spontan; (b) tidak berstruktur; (c) kebetulan; (d) tidak mengejar tujuan yang direncanakan; (e) identitas kenggotaan tidak jelas; (f) terjadi sambil lalu.
b. Hubungan Diadik
Hubungan diadik mengartikan KAP sebagi komunikasi yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai hubungan mantap dan jelas. Untuk memahami perilaku seseorang, harus mengikutsertakan paling tidak dua orang peserta dalam situasi bersama .
Trenholm dan Jensen (1995:26) mendefinisikan KAP sebagai komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara tatap muka (komunikasi diadik). Sifat komunikasi ini adalah : (a) spontan dan informal; (b) saling menerima feedback secara maksimal; (c) partisipan berperan fleksibel. Contoh hubungan diadik adalah pola interaksi dalam keluarga menunjukkan jaringan komunikasi.
c. Pengembangan
KAP dapat dilihat dari dua sisi sebagai perkembangan dari komunikasi impersonal dan komunikasi pribadi atau intim. Oleh karena itu, derajat KAP berpengaruh terhadap keluasan dan kedalaman informasi sehingga merubah sikap.
Pendapat Berald Miller dan M. Steinberg (1998: 274), pandangan developmental tentang semakin banyak komunikator mengetahui satu sama lain, maka semakin banyak karakter antarpribadi yang terbawa dalam komunikasi tersebut.
F. Ciri-ciri KAP
Ciri-ciri KAP menurut Rogers adalah :
(a) Arus pesan dua arah;
(b) Konteks komunikasi dua arah;
(c) Tingkat umpan balik tinggi;
(d) Kemampuan mengatasi selektivitas tinggi;
(e) Kecepatan jangkauan terhadap khalayak relatif lambat;
(f) Efek yang terjadi perubahan sikap.
G. Efektifitas KAP
KAP merupakan komunikasi paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. Hal ini terdapat lima dari ciri-ciri efektifitas KAP, diantarnya:
1. Keterbukaan (openess) ;
2. Empati (empathy) ;
Tahapan proses empati :
• Kelayakan (decentering) ; bagaimana individu memusatkan perhatian kepada orang lain dan mempertimbangkan apa yang dipikirkan & dikatakan orla tersebut.
• Pengambilan peran (role taking) ; mengidentifikasikan orla ke dalam dirinya, menyentuh kesadaran diri melalui orla.
• Empati komunikasi (empathic communication), meliputi penyampaian perasaan, kejadian, persepsi atau proses yang menyatakan tidak langsung perubahan sikap/ perilaku penerima.
3. Dukungan (supportiveness) ;
4. Rasa Positif (positiveness) ;
5. Kesetaraan (equality).
H. Fungsi Komunikasi Antar Pribadi
1. Fungsi sosial
- Untuk kebutuhan biologis dan psikologis
- Untuk memenuhi kewajiban sosial
- Mengembangkan hubungan timbal balik
- Untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu diri sendiri
- Menangani konflik
2. Fungsi pengambilan keputusan
- Manusia berkomunikasi untuk membagi informasi
- Manusia berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain
BAB IV
KESIMPULAN
Komunikasi memberikan bimbingan kepada peserta komunikasi untuk saling berbagi asumsi, perspektif dan pengertian mengenai informasi yang dibicarakan untuk memudahkan proses empati.
Tiga pendekatan utama tentang pemikiran KAP berdasarkan:
a. Komponen-komponen utama
b. Hubungan Diadik
c. Pengembangan
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Febrina, 2008. Pengertian KIP/K (Komunikasi Inter Personal/ Konseling), dipos 8 Februari : 19.41 WIB.
Prakosa, Adi, 2007. Pengertian Komunikasi Antar Pribadi, dipos Jumat, 7 Desember : 20.06 WIB.
Wiryanto, 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : PT. Grasindo.
http://www.lusa.web.id/komunikasi-antar-pribadi-interpersonal-communication/
Joko Suswanto, Komunikasi Antar Pribadi, Oktober 12, 2009. http://id.shvoong.com/business-management/management/1935527-komunikasi-antar-pribadi/
Sasa Djuarsa S., Teori Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta. 2003
Diyah Kusumawardhani, Komunikasi Antar Pribadi, , http://communicareinstitute.com/?p=42
DAFTAR ISI
BAB I DAFTAR ISI
BAB II PENDAHULUAN
BAB III PEMBAHASAN
A. Definisi dan Pendekatan Komunikasi Antar Pribadi (KAP)
B. Tujuan komunikasi antar pribadi
C. Elemen-Elemen Komunikasi Antarpribadi
D. Faktor-faktor yang mem pengaruhi individu dalam KAP
E. Tiga pendekatan utama tentang pemikiran KAP
F. Ciri-ciri KAP
G. Efektifitas KAP
H. Fungsi Kominikasi antar Pribadi
BAB IV KESIMPULAN
BAB V PENUTUP
BAB II
PENDAHULUAN
Pergaulan manusia merupakan salah satu bentuk peristiwa komunikasi dalam masyarakat. Dan di antara manusia yang saling bergaul, ada yang saling membagi informasi, namun ada pula yang membagi gagasan dan sikap. Bahwa dalam pergaulan antarmanusia pula selalu terjadi proses penyesuaian pikiran, penciptaan simbol yang mengandung suatu pengertian bersama. Dalam menjalin komunikasi untuk saling membagi informasi kepada orang lain merupakan bentuk dari komunikasi antar pribadi. Dan dalam hal ini penulis akan membahas sekemampuan penulis dengan tujuan agar pembaca memahami apa itu komunikasi antar pribadi yang sesungguhnya.
Semoga makalah ini bermanfaat di bagi kita semua.
PEMBAHASAN
A. Definisi dan Pendekatan Komunikasi Antar Pribadi (KAP)
KAP adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang.
Komunikasi Interpersonal (KIP) adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.
KIP Antara Dua Orang adalah komunikasi dari seseorang ke orang lain, dua arah interaksi verbal dan nonverbal yang menyangkut saling berbagi informasi dan perasaan.
KIP Antara Tiga Orang/ lebih, menyangkut komunikasi dari orang ke beberapa oarng lain (kelompok kecil). Masing-masing anggota menyadari keberadaan anggota lain, memiliki minat yang sama dan/atau bekerja untuk suatu tujuan.
B. Tujuan komunikasi antar pribadi
a. Sebagai sarana pembelajaran. Melalui komunikasi antarpribadi kita belajar untuk lebih memahami dunia luar atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini. Walaupun sebagian besar informasi tersebut kita dapatkan melalui media massa, informasi tersebut dapat kita bicarakan melalui komunikasi antarpribadi.
b. Mengenal diri sendiri dan orang lain. Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat mengenal diri kita sendiri. Dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada orang lain, kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Persepsi diri kita sebagian besar merupakan hasil interkasi kita dengan orang lain.
c. Membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk social, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.
d. Dapat mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan.
e. Dapat mengakrabkan diri kita dengan orang lain. Bermain dan mencari hiburan. Dalam berkomunikasi tidak selamanya kita selalu berusaha mempengaruhi orang lain. Kita berkomunikasi juga untuk memperoleh kesenangan. Bercerita tentang film yang kita tonton, melontarkan lelucon, membicarakan hobi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperolah hiburan.
f. Menumbuhkan simpati melalui sikap positif dari lubuk hati misalnya dengan menjadi sukarelawan, memberikan dukungan moriil, atau memberikan dana, obat, makanan, pakaian, atau bangunan kepada mereka yang membutuhkan.
C. Elemen-Elemen Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi memiliki elemen sebagai berikut :
a. Source-Receiver
Dalam prosesnya komunikasi antarpribadi melibatkan dua orang. Masing-masing orang memformulasi dan mengirimkan pesan (fungsi source) serta merasa dan memahami pesan (fungsi receiver). Hubungan source-receiver tersebut menegaskan bahwa kedua fungsi tersebut diperankan oleh masing-masing individu dalam komunikasi antarpribadi. Latar belakang seseorang akan mempengaruhi pesan yang disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Pendidikan yang dimiliki oleh lawan bicara kita juga turut mempengaruhi cara kita berkomunikasi.
b. Encoding-Decoding
Encoding merupakan proses yang dilakukan untuk memproduksi pesan.Sumber harus merubah perasaan atau pikiran Untuk menyampaikan apa yang ada di dalam hati (perasaan) atau apa yang ada di dalam kepala (pikiran), sumber harus merubah perasaan atau pikiran tersebut ke dalam seperangkat symbol verbal maupun non verbal yang dapat dimengerti oleh penerima pesan. Proses inilah yang disebut penyandian (encoding).
Decoding adalah kebalikan dari encoding, yang merupakan perbuatan untuk memahami pesan. Pengalaman masa lalu (field of experience), rujukan nilai (frame of reference), pengetahuan, persepsi, pola pikir, perasaan, penerima pesan ini menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat symbol verbal maupun non verbal menjadi gagasan yang dapat dipahami. Proses inilah yang disebut penyandian balik (decoding).
Istilah encoding-decoding digunakan untuk menegaskan bahwa kedua aktivitas tersebut dilakukan oleh kedua belah pihak secara bergantian. Supaya komunikasi antarpribadi dapat terjadi, pesan harus di encoding dan decoding.
c. Competence
Kemampuan untuk dapat melakukan komunikasi secara efektif merupakan kemampuan yang harus dimiliki dalam komunikasi antarpribadi. Kemampuan tersebut antara lain adalah kemampuan untuk mengetahui pembicaraan yang sesuai dengan orang yang diajak bicara, pengetahuan tentang aturan dalam tingkah laku non verbal ( misalnya : ketepatan dalam sentuhan, volume suara, kedekatan fisik ) merupakan salah satu kemampuan dalam komunikasi antarpribadi. Singkatnya, kemampuan antarpribadi meliputi bagaimana mengatur komunikasi berdasarkan suasana dalam interaksi, siapa yang diajak berinteraksi dst.
d. Messages
Pesan merupakan sinyal yang berperan sebagai stimuli untuk penerima pesan, dapat didengar, dilihat, disentuh, dicium, dirasakan atau dipadukan. Kita berkomunikasi secara personal melalui bahasa tubuh dan melalui kata-kata. Pakaian yang kita kenakan, cara berjalan, duduk, tersenyum mengkomunikasikan siapa diri kita baik kepada orang lain maupun diri kita sendiri.
e. Feedback Messages
Keseluruhan dari proses komunikasi antarpribadi adalah kita saling memberi umpan balik, pesan dikirimkan kembali kepada pembicara atas reaksi yang telah dikatakan. Umpan balik memberitahukan kepada penanya apa pengaruh dari pesan bagi pendengarnya. Umpan balik ini digunakan sebagai dasar oleh pembicara untuk mengatur,memodifikasi,memperkuat,menegaskan atau mengubah konteks pesan.
Umpan balik dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Saat mengirimkan pesan kita juga mendengarkan diri sendiri : kita mendengarkan apa yang kita katakan, merasakan apa yang kita lakukan dan melihat apa yang kita tulis. Sebagai tambahan dari umpan balik diri sendiri, kita mendapat umpan balik dari orang lain.
f. Channel
Channel adalah media dimana pesan melintas. Bisa dianalogikan sebagai jembatan yang menghubungkan antara sumber dan penerima.Komunikasi biasanya menggunakan lebih dari satu saluran. Misalnya pada saat komunikasi empat mata, kita tidak hanya berbicara dan mendengar tetapi juga menggunakan gesture dan menerima signal virtual. Selain itu channel juga dapat rusak. Misalnya, apabila komunikator atau receiver buta atau tuli. Hal ini tentu akan menghambat penyampaian pesan.
g. Noise
Noise adalah gangguan yang terjadi pada saat proses penyampaian pesan dan dapat menghambat proses komunikasi. Noise dapat berupa fisik (suara gaduh, orang yang batuk dll),prasangka maupun kesalahpahaman. Salah satu konsep dalam memahami noise dan kepentingannya dalam komunikasi adalah signal-to-noise ratio. Signal yang diberi makna adalah informasi yang dianggap penting dan noise adalah informasi yang tidak berguna.
h. Ethics
Dikarenakan adanya konsekuensi atau dampak, komunikasi juga melibatkan etika. Setiap kegiatan komunikasi memiliki dimensi moral dan norma-norma kebenaran. Proses komunikasi harus dibarengi oleh etika dan juga keefektifan serta kepuasan.
D. Faktor-faktor yang mem pengaruhi individu dalam KAP
Komunikasi antarpribadi dimulai dari diri individu. Tampilan komunikasi yang muncul dalam setiap kita berkomunikasi mencerminkan kepribadian dari setiap individu yang berkomunikasi. Pemahaman terhadap proses pembentukan keperibadian setiap pihak yang terlibat dalam komunikasi menjadi penting dan mempengaruhi keberhasilan komunikasi. Tampilan komunikasi yang teramati/tampak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak terlihat, tapi terasa pengaruhnya, yaitu:
a. Meaning (makna).
Ketika simbol ada, maka makna itu ada dan bagaimana cara menanggapinya. Intonasi suara, mimik muka, kata-kata, gambar dsb. Merupakan simbol yang mewakili suatu makna. Misalnya intonasi yang tinggi dimaknai dengan kemarahan, kata pohon mewakili tumbuhan dsb.
b. learning.
Interpretasi makna terhadap simbol muncul berdasarkan pola-pola komunikasi yang diasosiasikan pengalaman, interpretasi muncul dari belajar yang diperoleh dari pengalaman. Interpretasi muncul disegala tindakan mengikuti aturan yang diperoleh melalui pengalaman.
Pengalaman merupakan rangkaian proses memahami pesan berdasarkan yang kita pelajari. Jadi makna yang kita berikan merupakan hasil belajar. Membaca, menulis, menghitung adalah proses belajar dari lingkungan formal. Jadi, kemampuan kita berkomunikasi merupakan hasil learning (belajar) dari lingkungan.
c. Subjectivity.
Pengalaman setiap individu tidak akan pernah benar-benar sama, sehingga individu dalam meng-encode (menyusun atau merancang) dan men-decode (menerima dan mengartikan) pesan tidak ada yang benar-benar sama. Interpretasi dari dua orang yang berbeda akan berbeda terhadap objek yang sama.
d. Negotiation.
Komunikasi merupakan pertukaran symbol. Pihak-pihak yang berkomunikasi masing-masing mempunyai tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam upaya itu terjadi negosiasi dalam pemilihan simbol dan makna sehingga tercapai saling pengertian. Pertukaran simbol sama dengan proses pertukaran makna. Dan masing-masing pihak harus menyesuaikan makna satu sama lain.
e. Culture.
Setiap individu adalah hasil belajar dari dan dengan orang lain. Individu adalah partisipan dari kelompok, organisasi dan anggota masyarakat Melalui partisipasi berbagi simbol dengan orang lain, kelompok, organisasi dan masyarakat. Simbol dan makna adalah bagian dari lingkungan budaya yang kita terima dan kita adaptasi. Melalui komunikasi budaya diciptakan, dipertahankan dan dirubah. Budaya menciptakan cara pandang (point of view).
f. Interacting levels and context.
Komunikasi antar manusia berlangsung dalam bermacam konteks dan tingkatan. Lingkup komunikasi setiap individu sangat beragam mulai dari komunikasi antar pribadi, kelompok, organisasi, dan massa.
g. Self Reference.
Perilaku dan simbol-simbol yang digunakan individu mencerminkan pengalaman yang dimilikinya, artinya sesuatu yang kita katakan dan lakukan dan cara kita menginterpretasikan kata dan tindakan orang adalah refleksi makna, pengalaman, kebutuhan dan harapan-harapan kita.
h. Self Reflexivity.
Kesadaran diri (self-cosciousnes)merupakan keadaan dimana seseorang memandang dirinya sendiri (cermin diri) sebagai bagian dari lingkungan. Inti dari proses komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungannya dan itu berpengaruh pada komunikasi.
i. Inevitability.
Kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Walaupun kita tidak melakukan apapun tetapi diam kita akan tercermin dari nonverbal yang terlihat, dan itu mengungkap suatu makna komunikasi.
E. Tiga pendekatan utama tentang pemikiran KAP berdasarkan:
a. Komponen-komponen utama
Bittner (1985:10) menerangkan KAP berlangsung, bila pengirim menyampaikan informasi berupa kata-kata kepada penerima dengan menggunakan medium suara manusia (human voice).
Menurut Barnlund , ciri-ciri mengenali KAP sebagai berikut : (a) bersifat spontan; (b) tidak berstruktur; (c) kebetulan; (d) tidak mengejar tujuan yang direncanakan; (e) identitas kenggotaan tidak jelas; (f) terjadi sambil lalu.
b. Hubungan Diadik
Hubungan diadik mengartikan KAP sebagi komunikasi yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai hubungan mantap dan jelas. Untuk memahami perilaku seseorang, harus mengikutsertakan paling tidak dua orang peserta dalam situasi bersama .
Trenholm dan Jensen (1995:26) mendefinisikan KAP sebagai komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara tatap muka (komunikasi diadik). Sifat komunikasi ini adalah : (a) spontan dan informal; (b) saling menerima feedback secara maksimal; (c) partisipan berperan fleksibel. Contoh hubungan diadik adalah pola interaksi dalam keluarga menunjukkan jaringan komunikasi.
c. Pengembangan
KAP dapat dilihat dari dua sisi sebagai perkembangan dari komunikasi impersonal dan komunikasi pribadi atau intim. Oleh karena itu, derajat KAP berpengaruh terhadap keluasan dan kedalaman informasi sehingga merubah sikap.
Pendapat Berald Miller dan M. Steinberg (1998: 274), pandangan developmental tentang semakin banyak komunikator mengetahui satu sama lain, maka semakin banyak karakter antarpribadi yang terbawa dalam komunikasi tersebut.
F. Ciri-ciri KAP
Ciri-ciri KAP menurut Rogers adalah :
(a) Arus pesan dua arah;
(b) Konteks komunikasi dua arah;
(c) Tingkat umpan balik tinggi;
(d) Kemampuan mengatasi selektivitas tinggi;
(e) Kecepatan jangkauan terhadap khalayak relatif lambat;
(f) Efek yang terjadi perubahan sikap.
G. Efektifitas KAP
KAP merupakan komunikasi paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. Hal ini terdapat lima dari ciri-ciri efektifitas KAP, diantarnya:
1. Keterbukaan (openess) ;
2. Empati (empathy) ;
Tahapan proses empati :
• Kelayakan (decentering) ; bagaimana individu memusatkan perhatian kepada orang lain dan mempertimbangkan apa yang dipikirkan & dikatakan orla tersebut.
• Pengambilan peran (role taking) ; mengidentifikasikan orla ke dalam dirinya, menyentuh kesadaran diri melalui orla.
• Empati komunikasi (empathic communication), meliputi penyampaian perasaan, kejadian, persepsi atau proses yang menyatakan tidak langsung perubahan sikap/ perilaku penerima.
3. Dukungan (supportiveness) ;
4. Rasa Positif (positiveness) ;
5. Kesetaraan (equality).
H. Fungsi Komunikasi Antar Pribadi
1. Fungsi sosial
- Untuk kebutuhan biologis dan psikologis
- Untuk memenuhi kewajiban sosial
- Mengembangkan hubungan timbal balik
- Untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu diri sendiri
- Menangani konflik
2. Fungsi pengambilan keputusan
- Manusia berkomunikasi untuk membagi informasi
- Manusia berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain
BAB IV
KESIMPULAN
Komunikasi memberikan bimbingan kepada peserta komunikasi untuk saling berbagi asumsi, perspektif dan pengertian mengenai informasi yang dibicarakan untuk memudahkan proses empati.
Tiga pendekatan utama tentang pemikiran KAP berdasarkan:
a. Komponen-komponen utama
b. Hubungan Diadik
c. Pengembangan
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Febrina, 2008. Pengertian KIP/K (Komunikasi Inter Personal/ Konseling), dipos 8 Februari : 19.41 WIB.
Prakosa, Adi, 2007. Pengertian Komunikasi Antar Pribadi, dipos Jumat, 7 Desember : 20.06 WIB.
Wiryanto, 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : PT. Grasindo.
http://www.lusa.web.id/komunikasi-antar-pribadi-interpersonal-communication/
Joko Suswanto, Komunikasi Antar Pribadi, Oktober 12, 2009. http://id.shvoong.com/business-management/management/1935527-komunikasi-antar-pribadi/
Sasa Djuarsa S., Teori Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta. 2003
Diyah Kusumawardhani, Komunikasi Antar Pribadi, , http://communicareinstitute.com/?p=42
Langganan:
Postingan (Atom)